Selasa, 03 Januari 2012

Cuma Jual atau Sewa


Hermansyah, sudah pagi-pagi benar tiba di kampus. Pukul 7 pagi, ia bersama empat temannya sudah berkumpul di Economart, tempat praktek mata kuliah kewirausahaan FE UNJ. Economart sendiri layaknya toko swalayan, bedanya semua kegiatan perdagangan dilakukan mahasiswa dan berada di dalam kampus.

Kali ini, Herman bertugas menjajakan barang dagangan keliling kampus. Jelang pukul 8, ia bersiap-siap, aneka minuman kemasan dan makanan ringan disusun dalam sebuah keranjang. Agar dikenali sebagai mahasiswa praktek, Herman Cs wajib mengenakan seragam khas Economart, rompi krem yang berkantung banyak.

Mahasiswa Jurusan Ekonomi Koperasi  angkatan 2010 ini memiliki waktu seharian menjajakan dagangan. “Pokoknya asal ada keramaian, ya ditawarkan,” ujar herman.

Seluruh mahasiswa FE UNJ wajib melakukan praktek kewirausahaan seperti Herman. Mata kuliah kewirausahaan sendiri bersifat wajib bagi beberapa program studi di FE UNJ. Selain Economart, FE UNJ juga menyediakan lahan praktek wirausaha lainnya, yakni Artha Aksara.

Universitas Wirausaha Buat Susah Mahasiswa



Giatnya universitas melakukan usaha mandiri malah membawa bencana. Batas antara keadilan dan kemanusiaan dengan mengejar keuntungan kian hilang.

Awalnya, adalah bedah buku Enterpreneurial Pathways of University Transformation pada Februari 2003.  Bedah buku ini merupakan langkah awal UNJ menuju Enterpreneurial University. Maksud bedah buku ialah pengenalan kepada civitas akademik dengan orientasi pedidikan wirausaha di perguruan tinggi.

Kusmayanto Kadiman, saat itu Rektor ITB, didaulat sebagai pembicara utama.  ITB sendiri diyakini merupakan teladan, banyak civitas akademik belajar berwirausaha ria dari bekas sekolah Ir. Soekarno ini.

Dalam bedah buku tersebut, banyak diperkenalkan kampus ternama dunia seperti, Warwick University Inggris, Twente University Belanda, Chalmers University of Technology Swedia, Joensuu University Finlandia, dan Strathclyde University Skotlandia. Kampus-kampus ini tersohor akan kesuksesannya mengembangkan wirausaha di universitas.

Jumat, 16 Desember 2011

Gingsul

 


Wanita Jepang dengan Yaeba
  
Kita butuh lebih dari sekadar teori! Kita butuh Chaos! Itu pasti!
 
Beberapa tahun terakhir kawat gigi atau bracket yang lazim disebut behel jadi satu ikon baru bagi muda-mudi di Indonesia-bahkan di dunia. Secara fungsional, bracket dipakai bagi orang yang memiliki kelainan rahang dan bertujuan memperbaiki wajahnya lewat menstabilkan struktur gigi yang berantakan. Namun, semangat modernitas justru bukan hanya menyuguhkan bracket secara fungsional, melainkan menawarkan nilai-nilai simbolik.

Makanya jangan heran, saat beberapa figur yang bisa diakses banyak orang mengenakannya, seketika berbondong-bondong orang turut meniru menggunakan bracket. Bracket murah meriah yang tidak ditangani oleh ahlinya juga jadi barang dagangan yang laris manis. Padahal, dahulu memakai bracket adalah hal yang aneh dan memalukan, sekarang malah jadi mode dan gaya hidup.

Namun, belakangan ini di Jepang-dimana bracket juga jadi sebuah mode-tren bracket nampaknya sudah pudar. Di Jepang orang bukan lagi memagari giginya dengan kawat, mereka justru menambal giginya agar menonjol, tidak rapih, orang Indonesia menyebutnya gingsul. Biasanya gingsul yang hadir secara alami  karena pertumbuhan gigi yang tidak mendapat cukup ruang di rahang.

Selasa, 18 Oktober 2011

Aku (Mau) Mati


Sejak bertemu orang tua itu selepas pulang kantor kemarin, aku punya niat untuk mati. Alasan pertama, atasanku adalah supplier masalah buat semua pegawainya, termasuk aku-karena aku asisten pribadinya aku yang paling banyak disodor masalah darinya. Dengan kepala botak dan badan gemuk pun kumis dan jambang yang hampir melebat sepinggir mukanya, dia cerminan manusia perfeksionis yang tidak melewat kesalahan sekecil apapun. Kedua, sejak kecil, aku dianugerahi Tuhan dengan sifat introvert dan inferior yang akut, makanya aku lebih suka sendiri untuk hal apapun. Sayangnya, aku kini tak mampu lagi menahannya sendiri dan belum juga aku lepas dari penjara jiwa ini.

Aku ingat betul apa yang dikatakan orang tua itu. Awalnya, saat keluar kantor, aku mampir ke warung untuk membeli rokok di seberang jalan. Karena aku lihat lalu lintas jalan yang masih padat, kuputus untuk sejenak merokok di warung tersebut. Tak lama, datanglah si orang tua tersebut.

“Permisi, boleh saya tahu apa saya masih hidup?” tanyanya.

“Hah?” kagetku.

“Iya,saya mau tanya. Apa saya masih hidup?”

“Haha, iya, bapak masih hidup. buktinya bapak mengajak bicara saya, bapak masih bernafas, bapak juga terlihat bugar. Artinya anda masih hidup.” sinting betul ini orang tua, pikirku.

“Oh, jadi hidup itu bagaimana organ-organ dan fungsi biologis tubuh masih berfungsi?”

“Kurang lebih seperti itu,”

“Apa beda hidup sepeda motor dengan hidup manusia? Mereka punya pola yang sama seperti anda sebut. Bernafas, walau beda zat. Manusia dari gas menjadi gas dan air, sepeda motor dari air menjadi gas.” Makin aneh si orang tua bicara.

“Entahlah, yang kutahu sewaktu sekolah ya itu yang aku papar barusan,”

“Setalah anda bekerja di kantor, setelah anda tidak sekolah. Anda tidak lagi hidup? oh bukan maksud saya anda tidak lagi mencari tahu apa itu hidup?”

Aku mulai tidak bisa menjawab. Aku mulai agak risih atas kehadirannya. Aku pikir aku lebih baik meninggalkannya, masalah yang diberikan atasanku sudah lebih dari standar masalah yang diberi Tuhan kepada manusia, aku tidak mau ditambah dengan ocehan omong kosong dari orang tua ini. Maka aku langsung meninggalkan warung tersebut. Hampir seratus meter aku berjalan tiba-tiba si orang tua meneriakiku.

“Hey, bagaiamana bila kita mati saja?”

Minggu, 28 Agustus 2011

Tetap Sebuah Mainan

Rilis: Juni 2010
Produksi: Disney/Pixar
Sutradara: Lee Unkrich
Penulis: John Lesseter, Andrew Stanton, Michael Arndt (screenplay)
Pemain: Tom Hanks, Tim Allen, Joan Cussack, Ned Beatty

 
Andy Davis telah berumur 17 tahun dan siap menjadi seorang mahasiswa. Sebagaimana lelaki yang beranjak dewasa, Andy juga mulai belajar meninggalkan masa kecilnya. Ia mulai dunia barunya di dalam kedewasaan. Pun, sebagaimana seorang yang berangkat menuju dewasa, ia meletakan spontanitas, keceriaan kanak-kanak, keluiwesan di balik pintu aturan, kekakuan kedewasaan. Termasuk juga mainannya.

Dengan latar belakang inilah John Lesseter kembali menggarap sequel animasi terbaik sepanjang masa-ada di peringkat tujuh daftar film terbaik sepanjang masa versi IMDB- Toy Story. Pada sequel yang ketiga, Lee Unkrich yang pada sequel sebelumnya berposisi sebagai co-Director, kini dipercaya memegang penuh kendali sutradara. 

Setelah jeda lebih dari satu dekade, Toy Story 3 masih bercerita tentang petualangan Woody (Tom Hanks), Buzz Lightyear (Tim Allen), Jessie (Joan Cussack), Mr. and Mrs. Potato Head, Rex, dan segerombolan mainan lain di rumah Andy Davis.  Namun, karena Andy yang kini sudah beranjak dewasa, dan harus meninggalkan masa kecil termasuk mainannya, maka pertualangan kali ini bukan lagi tentang mainan layaknya mainan untuk anak kecil.