Tampilkan postingan dengan label mahasiswa IKIP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mahasiswa IKIP. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Maret 2015

Merevitalisasi LPTK


Oleh: Anggar Septiadi dan Kurnia Yunita Rahayu*

PENGANTAR
Bisa jadi tulisan ini telat muncul di tengah arus utama berita Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla yang sedang didesak menuntaskan beragam kisruh politik serta aplikasi kebijakan ekonominya. Meski demikian, hal-hal tersebut juga yang mendorong tulisan ini dibuat.
Ada beberapa kenyataan sekaligus pertanyaan yang melandasi tulisan ini. Khususnya  soal mengapa porsi diskursus guru dalam mengurai persoalan pendidikan selalu menjadi pertimbangan kesekian setelah problem kurikulum, dana pendidikan, partisipasi pendidikan, hingga persoalan konfigurasi mata pelajaran apa yang seharusnya diberlakukan untuk menjadikan seorang menjadi seorang Indonesia. Padahal semua hal tersebut (seharusnya) dirangkai oleh seorang guru.
Sekalipun ada, ihwal guru akan selalu berkutat pada masalah eksternalisasinya yakni kesejahteraan, kualitas, hingga moral guru. Terlebih belakangan juga Menteri Anies Baswedan kerap bicara soal peningkatan kualitas guru tapi sama sekali tak menyentuh bagaimana operasi sirkuit produksinya: Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).
Oleh karena itu, penulis beranggapan bahwa ada urgensi untuk membahas bagaimana posisi LPTK kekinian sebagai rahim lahirnya guru. Sehingga pada tahap berikutnya kita bisa sedikit memprediksikan bagaimana program pendidikan Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla mampu untuk dilaksanakan dengan meneropong konfigurasi guru yang seperti apa yang coba diciptakan oleh Pemerintahan Jokowi-JK.
Tulisan ini sendiri akan dibagi ke beberapa bagian, pertama menyoal bagaimana sejarah singkat lembaga pendidikan guru Indonesia. Bagian kedua akan memperlihatkan bagaimana konstruksi guru yang diposisikan sebagai buruh. Sedangkan bagian ketiga akan mengontekstualisasikan dua soal tersebut dengan kebutuhan sekarang.

Senin, 01 April 2013

Menunggu Mesias


Tanggapan atas Tulisan Ahmad Tarmiji Alkhudri; Menjadi Guru Tranformatif: Memformulasikan Pendidikan Karakter Melalui Pembelajaran Inovatif dan Humanis.

Pendahuluan

Selain wacana perubahan kurikulum 2013, belakangan perbincangan profesi guru sering jadi buah bibir masyarakat. Hal ini karena sejak pertengahan 2012, ada tujuh mahasiswa yang menginginkan revisi dari Undang-undang Guru dan Dosen no. 14 tahun 2005. Mereka memersoalkan adanya lulusan non-LPTK yang disesejarkan dengan lulusan LPTK untuk memeroleh restu mengajar melalui PPG dari UUGD tersebut. Makanya tujuh mahasiswa itu kelimpungan dan berniat mengajukan gugatan judicial review atas UUGD untuk hal pasal tersebut. Usaha yang dimulai pada pertengahan 2012 ini akhirnya mentok pada kamis (28/3) ketika MK menolak gugatan ketujuh mahasiswa tersebut.[i]

Ada sesuatu yang menarik dari cerita di atas. Yakni konfrontasi antara kemampuan pedagogik seorang guru dan kemampuan keilmuan-misalnya guru fisika harus memiliki kemampuan yang setara dengan fisikawan-yang juga selalu jadi problem semenjak konversi IKIP menjadi sebuah universitas. Problem ini yang saya pikir juga dicoba dijawab Alkhudri dalam Menjadi Guru Tranformatif: Memformulasikan Pendidikan Karakter Melalui Pembelajaran Inovatif dan Humanis.

Alkhudri mengandaikan ada satu lagi peran guru selain dalam fungsi mendidik (pedagogik) dan pengembangan keilmuan, yakni guru memegang peran penting dalam usaha transformasi sosial. Artinya setalah dua peran tersebut ditunaikan guru, ia berfungsi merangsang peserta didik agar mampu memiliki kecakapan sosial yang mampu menjawab zaman.

Senin, 14 Januari 2013

Einsten, Bir, dan Kritik



Untuk ibu-ibu yang tak kuat digoda kritik: Merumuskan hal-hal negatif dari suatu masa transisi jauh lebih bermakna ketimbang karir akademis-Max Horkheimer


‘Little Boy’ dan ‘Fat Man’ memang bukan sembarang tamu, mereka berdualah yang datang tak diundang pada 6 dan 9 Agustus 1945 di Hiroshima dan Nagasaki. Setelah mereka berdua tiba, hampir dua ratus ribu manusia lenyap seketika, yang bersisa pun harus menanggung cacat seumur hidup. Peristiwa ini adalah salah satu bencana terbesar kreasi manusia.

Enam tahun sebelum Hiroshima dan Nagasaki kejatuhan ‘si anak kecil’ dan ‘si gendut’, Albert Einsten si jenius abad dua puluh mengirimi surat kepada Presiden Amerika Franklin D. Roosevelt pada 2 Agustus 1939. Kurang lebih isi surat tersebut berisi: desakan kepada pemerintah AS untuk mengembangkan rumus mahsyur miliknya: E=M.C2 untuk menciptakan bom atom guna melumpuh pemerintah Nazi Jerman.

19 Oktober 1939, Presiden Roosevelt menandatangani proyek pengembangan bom dengan nama Manhattan Project sembari mengesahkan  Komite Pengembangan Senjata Atom dua hari setelahnya. Einsten sendiri kala itu sudah menetap di Amerika karena adanya pengusiran orang-orang Yahudi Jerman, ia salah seorang Yahudi yang terusir.

Entah apa yang ada di pikiran Einsten kala menyurati Roosevelt untuk bergegas mencipta bom atom. Yang ia tahu kala itu adalah Jerman lewat desas-desus telah memepersiapkan senjata super untuk memenangi Perang Dunia kedua. Einsten sendiri menyesal dan tidak mengira bahwa dampak dari bom atom tersebut sedemikian destruktif. ”Jika mengetahui akan menjadi sampai sedemikian akibatnya, lebih baik saya menjadi tukang reparasi arloji saja,” sesalnya.
Satu yang menarik adalah bahwa problem Einsten bisa dimaknai sebagai problem positivistik, secara vulgar bencana Hiroshima dan Nagasaki bisa ditelisik atas kecenderungan positivistik sebagai penyebabnya. Yakni, pemisahan antara pengetahuan dan kepentingan manusia. Buat orang-orang positivistik, pengetahuan adalah sebuah entitas mandiri yang tanpa campur tangan manusia ia bisa hidup dan bergerak. Sementara saat diturunkan kepada dunia manusia ia tidak akan merubah nilainya.

Ada salah satu lelucon menarik mengenai Einsten dari aktor dan sutradara Australia Greg Pead atau yang terkenal dengan nama beken Yahoo Serious. Dalam film besutannya Young Einsten(1988) ia memposisikan Einsten sebagai bocah eksentrik dari kepulauan Tasmania, Austalia. Einsten muda berasal dari keluarga petani Apel yang dituruni sebuah laboratorium rahasia untuk membuat bir yang memiliki gelembung.

Ceritanya si Eisnten muda mampu memecahkan teka-teki yang hingga lima generasi keluarga Einsten tak mampu membuat bir dengan gelembung. Ia menemukan bir versi gelembung dengan rumus yang baru saja ia ciptakan: energi sama dengan masa dikali kecepatan cahaya kuadrat. Setelah berhasil, ia berniat mematenkan rumus temuannya ke Sidney. Namun di tengah jalan rumus tersebut dicuri, dan oleh si pencuri rumus tersebut dijadikan dasar untuk membuat senjata nuklir yang dapat diperjualbelikan bagi negara yang doyan perang.

Minggu, 26 Agustus 2012

Bangga


Spanduk itu memang banyak mencuri perhatian. Ukurannya besar. Kurang lebih 8 x 1 meter. Tulisannya Gue Bangga Jadi Mahasiswa UNJ ditambah lambang UNJ di pojok. Bila benar, spanduk tersebut dipasang mulai Juli di Teater Terbuka. Saya tidak tahu siapa yang memasang. Apalagi niatnya. Saya tak peduli. tapi spanduk itu tetap menjambret perhatian. Khusunya buat mahasiswa baru.

Teman saya jadi korban. Gara-gara spanduk tersebut, Ia kecopetan perhatian. Ia gadis 17 tahun, baru lulus SMA. Diterima di Jurusan Akuntansi UNJ, lewat jalur Penmaba. Saat daftar ulang saya mengantarnya ke BAAK buat urus syarat-syarat administratif sekaligus urusan birokratis lainnya. ia tak hirau spanduk itu hinnga melihat antrian panjang menuju petugas loket. Ia mengendur semangat. Mengajak saya mencari selasar. Melempar pandang. Pandangnya terhenti sejenak di spanduk.

Si gadis lulusan tulen SMA Indonesia. Tak banyak tingkah. Hijau. Polos. Perhentian mata di spanduk itu membuah manifestasi semua yang ia dapat di bangku sekolah. “Memang mahasiswa UNJ tidak bangga dengan kampusnya sendiri, ya?” ucapnya. Polos. Saya masih tidak peduli hingga si gadis mengulang pertanyaannya dua kali. Saya menjawab seadanya, “sabar, sebentar lagi juga akan tahu apa yang dirasa si pemasang spanduk.”
Inferior. Satu kata yang mampir di kepala saya setelahnya. Sebuah rasa ketidakpercayaan diri akut. Rendah diri. Menganggap dirinya sangat rendah dihadapan apapun dan siapapun. Dalam tingkat tertentu, omongan si gadis benar. Kenapa harus dibuat spanduk besar dan lebar buat menyemat kebanggan? Apa sudah tak ada lagi yang mampu dibanggakan hingga mengguna cara-cara instan seperti memasang spanduk? Bukan. Bukan spanduk yang jadi masalah. Utamanya hal yang ingin diungkap si spanduk.

Saya tak mau lagi ungkit tentang kasus korupsi, biaya kuliah yang menjulang, atau sistem perkuliahan amburadul. Tapi, apa efeknya sangat sangat meraba ranah kejiwaan sampai menerbit inferioritas yang akut. Dibaca terbalik, spanduk itu memuncul krisis identitas. Ketidakpercayaan terhadap almamater. Sebelumnya, saya yakin ini semua telah diketahui walau semua pura-pura tidak tahu. Saya kagum sekaligus heran. Bila sudah ada pernyataan seperti ini, ranahnya bukan lagi individual melainkan kolektif. Sudah jadi perihal sosiologis.

Hipokrit. Kata kedua yang bertandang. munafik. Cari peluang yang menguntungkan. Berpura-pura. Di luar berpenampilan gagah, arogan, mewah. Liat itu gedung tinggi! Bayaran berjuta-juta! Kloset duduk dengan air cebok yang memancur otomatis! Sementara di dalam hanya ada brankas penyimpan takut, cemas, panik. Atas isi brankas itu muncrat cara-cara temporer. Spanduk salah satunya. Tidak menjamah masalah utama.

Citra awal harus menggoda. Citra jadi cara ampuh menyembunyikan inferioritas stadium akhir. Masa pembinaan selepas MPA mencitrakan UNJ sesak kegiatan akademik. Ada juga yang disembunyikan. Fakta bahwa belakangan waktu UNJ tak sempat hadir di perhelatan akademik macam PIMNAS. Pun sulit mendapat hibah program kreatifitas mahasiswa jadi alasan masa pembinaan mahasiswa ada. UNJ sadar ia tidak berkutik. lagi-lagi jalan pintas yang ditempuh. Seperti indomie. Instan.

Kembali ke si gadis dan saya. Si gadis tampak heran ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi disini. Saya ambil kesempatan atas polosnya. Saya terangkan bahwa kata bangga dalam Bahasa Jawa punya arti lain. Bangga: tidak mau menurut, pembangkang. Lema ini sudah diadopsi menjadi Bahasa Indonesia baku. Ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ia kaget mendengarnya. Lagi-lagi polosnya saya manfaatkan. “Bila kamu mahasiswa UNJ sejati, kamu harus membangkang atas senior, dosen, ketua jurusan, dekan, pembantu rektor, rektor.” Saya tertawa banyak setelahnya. Ia cuma bilang saya gila.

Sabtu, 03 Maret 2012

Menelaah Hubungan Pendidikan dan Modal*

Judul                        : Marx and Education
Penulis                    : Jean Anyon
Penerbit                  : Routledge Press
Tahun Terbit           : Desember 2011
Halaman                 : 115 halaman
Anyon mengajak guru, murid, dan orang tua di Amerika untuk memiliki determinasi atas buruknya kondisi pendidikan. Bisakah Indonesia?

Sudah jauh-jauh hari ahli pendidikan revolusioner Brazil Paulo Freire mengingatkan bahwa netralitas terhadap pendidikan adalah sebuah kenaifan. Pendidikan, secara keseluruhan memang digunakan sebagai alat atas upaya menjaga eksistensi kelompok dominan. Lewat kurikulum, metode pengajaran, hingga sistem produksi guru diyakini Freire meciptakan manusia-manusia yang siap menyokong konfigurasi kelompok dominan.

Pendidikan tidak hadir dengan lmu pengetahuan yang tidak berkepentingan. Lewat sekolah, kepentingan menjaga eksistensi kelompok dominan gencar dilakukan. Atas pendangan tersebutlah, paradigma terhadap pendidikan pada akhir 1970-an memiliki dinamika. Lewat pendekatan sosiologis, khususnya perspektif Marxis, ahli-ahli seperti Michael Apple, Pierre Bordieu, Henry Giroux, Paulo Freire memulai analisis sosiologi pendidikan.

Ahli-ahli sosiologi pendidikan ini tidak sepakat bahwa yang diajarkan pada siswa sekolah sebagai pengetahuan objektif, melainkan pengetahuan yang mengandung dominasi budaya, yaitu pengetahuan yang disusun melalui proses selektif yang memasukkan kepentingan tertentu dan membuang yang lainnya.

Rabu, 01 Februari 2012

Pendidikan dan Manusia

Judul Buku      : Mazhab Pendidikan Kritis Menyingkap Relasi Pengetahuan  Politik, dan Kekuasaan
Penulis             : Agus Nuryatno
Penerbit           : Resist Book
Tahun Terbit   : 2008
Halaman           : VI+133 hal




The Neutrality of education is the one of fundamental connotations of the naive vision of education

Sebagai mahasiswa ex-IKIP yang dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga pendidik, pada awalnya, saya-dan semua mahasiswa lainnya-diganjar dengan pernyataan bahwa pendidikan adalah usaha sadar manusia beranjak dewasa atas proses tidak tahu menjadi mengetahui. Transfer knowledge.

Dari institusi berwujud Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) ini saya dipersiapakan untuk mentransfer pengetahuan lewat proses pendidikan, di dalam sekolah. Nantinya pengetahuan-pengetahuan yang saya terima di ruang kelas diharap mampu direproduksi di sekolah dimana saya menjadi pengajar. Prosesnya berputar dari produksi, distribusi, dan konsumsi pengetahuan yang bersifat statis dan punya watak represif untuk membuat kita menjadi permisif atas siklus pengetahuan tersebut.

Saya dituntut untuk menerima pengetahuan secara bebas nilai, menditribusikannya secara bebas nilai, dan memaksa kegiatan konsumsi pengetahuan di sekolah nantinya juga tanpa nilai. Saya sebagai agensi pengetahuan diposisikan untuk tetap menjadi objek dalam fungsinya sebagai distributor pengetahuan kepada masyarakat.

Selasa, 03 Januari 2012

Cuma Jual atau Sewa


Hermansyah, sudah pagi-pagi benar tiba di kampus. Pukul 7 pagi, ia bersama empat temannya sudah berkumpul di Economart, tempat praktek mata kuliah kewirausahaan FE UNJ. Economart sendiri layaknya toko swalayan, bedanya semua kegiatan perdagangan dilakukan mahasiswa dan berada di dalam kampus.

Kali ini, Herman bertugas menjajakan barang dagangan keliling kampus. Jelang pukul 8, ia bersiap-siap, aneka minuman kemasan dan makanan ringan disusun dalam sebuah keranjang. Agar dikenali sebagai mahasiswa praktek, Herman Cs wajib mengenakan seragam khas Economart, rompi krem yang berkantung banyak.

Mahasiswa Jurusan Ekonomi Koperasi  angkatan 2010 ini memiliki waktu seharian menjajakan dagangan. “Pokoknya asal ada keramaian, ya ditawarkan,” ujar herman.

Seluruh mahasiswa FE UNJ wajib melakukan praktek kewirausahaan seperti Herman. Mata kuliah kewirausahaan sendiri bersifat wajib bagi beberapa program studi di FE UNJ. Selain Economart, FE UNJ juga menyediakan lahan praktek wirausaha lainnya, yakni Artha Aksara.

Universitas Wirausaha Buat Susah Mahasiswa



Giatnya universitas melakukan usaha mandiri malah membawa bencana. Batas antara keadilan dan kemanusiaan dengan mengejar keuntungan kian hilang.

Awalnya, adalah bedah buku Enterpreneurial Pathways of University Transformation pada Februari 2003.  Bedah buku ini merupakan langkah awal UNJ menuju Enterpreneurial University. Maksud bedah buku ialah pengenalan kepada civitas akademik dengan orientasi pedidikan wirausaha di perguruan tinggi.

Kusmayanto Kadiman, saat itu Rektor ITB, didaulat sebagai pembicara utama.  ITB sendiri diyakini merupakan teladan, banyak civitas akademik belajar berwirausaha ria dari bekas sekolah Ir. Soekarno ini.

Dalam bedah buku tersebut, banyak diperkenalkan kampus ternama dunia seperti, Warwick University Inggris, Twente University Belanda, Chalmers University of Technology Swedia, Joensuu University Finlandia, dan Strathclyde University Skotlandia. Kampus-kampus ini tersohor akan kesuksesannya mengembangkan wirausaha di universitas.

Jumat, 16 Desember 2011

Gingsul

 


Wanita Jepang dengan Yaeba
  
Kita butuh lebih dari sekadar teori! Kita butuh Chaos! Itu pasti!
 
Beberapa tahun terakhir kawat gigi atau bracket yang lazim disebut behel jadi satu ikon baru bagi muda-mudi di Indonesia-bahkan di dunia. Secara fungsional, bracket dipakai bagi orang yang memiliki kelainan rahang dan bertujuan memperbaiki wajahnya lewat menstabilkan struktur gigi yang berantakan. Namun, semangat modernitas justru bukan hanya menyuguhkan bracket secara fungsional, melainkan menawarkan nilai-nilai simbolik.

Makanya jangan heran, saat beberapa figur yang bisa diakses banyak orang mengenakannya, seketika berbondong-bondong orang turut meniru menggunakan bracket. Bracket murah meriah yang tidak ditangani oleh ahlinya juga jadi barang dagangan yang laris manis. Padahal, dahulu memakai bracket adalah hal yang aneh dan memalukan, sekarang malah jadi mode dan gaya hidup.

Namun, belakangan ini di Jepang-dimana bracket juga jadi sebuah mode-tren bracket nampaknya sudah pudar. Di Jepang orang bukan lagi memagari giginya dengan kawat, mereka justru menambal giginya agar menonjol, tidak rapih, orang Indonesia menyebutnya gingsul. Biasanya gingsul yang hadir secara alami  karena pertumbuhan gigi yang tidak mendapat cukup ruang di rahang.

Sabtu, 20 Agustus 2011

Kompetisi


Selamat pertama, bukan saya berikan karena anda berhasil diterima di kampus (katanya) rakyat ini. Selamat saya berikan kepada anda jauh sebelum itu, saat anda masih berwujud sel sperma yang berhasil mengalahkan jutaan pesaing lain yang hendak menuju ovarium. Ya, selamat karena anda telah memenangkan balapan kehidupan ini. Anda adalah pemenang.
 Saat anda hanya memiliki kepala dan buntut untuk berenang menuju rahim, anda sudah diajari bagaimana caranya berkompetisi untuk menuju finish. Kompetisi mengharuskan ada yang menang, dan memuncul yang kalah. Anda adalah Pemenang.
 Dalam kompetisi, bisa jadi anda adalah yang tersiap. Karena kemampuan anda memang di atas pesaing anda. Bukan juga mustahil, bahwa anda biasa saja, hanya saingan anda yang memang jauh diatas standar kesiapan menempuh balapan kehidupan ini. Bagaimanapun juga, Anda adalah pemenang.

Ketika Oemar Bakrie Bertemu Erich Fromm


Hari itu, Oemar Bakrie baru saja selesai mengajar di kelas, ia langung menuju ruang guru dan makan siang. Guru-guru lain yang saat itu berada di ruang yang sama juga sedang asik menghabiskan waktu istirahatnya dengan melahap santapannya masing-masing. Jam mengajar Bakrie sudah habis, ia memutuskan langsung pulang ke rumah.
 Di parkiran Bakrie tak mengambil sepeda kumbang yang biasa gunakan, ia menuju sebuah sepeda motor keluaran terbaru. Maklum, Bakrie baru saja mengikuti program sertifikasi guru yang telah manjadikannya seorang guru professional yang layak diberi upah secara professional pula. Maka tak heran setelah beberapa bulan mengumpulkan uang dengan gajinya yang ‘baru’ juga ditambah tunjangannnya, Bakrie dapat membeli sepeda motor dengan tunai.
 Setelah berpamitan dengan Udin, satpam sekolah, Bakrie langsung tancap gas. Jarak antara sekolah dengan rumah Bakrie memang cukup jauh dengan jalan yang berlubang. Di perjalanan ban sepeda motor Bakrie pecah, untung tak jauh dari Bakrie berhenti ada tukang tambal ban.

Minggu, 26 Juni 2011

Owen Story: Sekolah Binatang (tamat)


“Semangat betul kau Owen, hingga baru pulang selarut ini,” Prof Uber membuka pembicaraan saat Owen baru saja tiba di rumah.
Owen tidak langsung menjawab.
“Hey, burung hantu! Aku menanyamu!”
“Hancur,” jawab Owen singkat.
“Apanya?”
“Sekolah Binatang.”
“Mengapa.”
“Ternyata, bagaimanapun juga binatang tak akan mampu menjadi manusia,” keluh Owen “Badan Wilhelm memar karena jatuh dari pohon, hingga berkelahi dengan Illinov, Duke juga. Turton kakinya patah, bahkan Leona hingga pingsan saat mencoba untuk berenang. Dan seluruh murid sekolah binatang mengalami cedera.”
“Apa yang telah kamu lakukan Owen?”
“Membuat sekolah,”
“Bukan itu maksudku, mengapa kau menyuruh seekor babi dan bebek untuk memanjat, Kura-kura untuk berlari, bahkan seekor kucing hutan untuk berenang?” Tanya Prof Uber heran.

Owen Story: Sekolah Binatang (4)


Baru pukul 1.30 siang mereka bergegas ke padang ilalang untuk menggelar mata pelajaran ketiga yaitu berlari. 15 menit kemudian rombongan binatang sampai di Timur Hutan. Kali ini para binatang membentuk barisan ke samping. Mereka mencoba berlari bersama. Saat aba-aba diberi oleh Owen, mereka berlari serempak. Leona ada di urutan terdepan bersama si rubah. mereka saling balap-membalap. Di urutan paling belakang, ada Duke dan Wilhelm, dan Turton.
Josh yang besar ada di depan ketiga binatang tersebut, saat jarak yang sudah cukup jauh, saking letihnya Josh melambat dan menginjak Turton.
“Ahhhhhhhh, kakiku!” teriak Turton. Mendengar itu Josh kaget dan terjatuh. “Gedubrak!” bunyi jatuh Josh.
“Berhenti semuanya!” perintah Owen.

Owen Story: Sekolah Binatang (3)


Jam 8 pagi Owen sudah sampai di pohon besar di tengah hutan, Leona, dan Kun malah sudah sejak setengah jam yang lalu tiba di pohon. 15 menit kemudian Wilhelm dan Turton juga tiba.
“Kupikir aku yang datang paling dahulu,” sombong Turton.
Tak lama berselang Duke, Illinov, dan Josh juga datang. Mereka datang dengan berisik, Josh dengan tapak kaki yng besar saat berjalan sempat membut tanah di hutan sedikit bergetar, belum lagi Illinov yang mulutnya tak pernah berhenti berkicau.
“Perkenalkan ini Illinov dan Josh. Mereka juga ingin berpartisipasi dalam sekolah binatang,” Ucap Duke.
Belum tepat pukul 9, para binatang sudah berkumpul. Dengan sigap Owen nangkring di dahan pohon yag tak terlalu tinggi, supaya dilihat oleh para binatang.
“Baiklah, karena sekarang sudah jam 9 tepat bagimana bila kita langsung memulai sekolah kita? Dan seperti yang telah kita sepakati, pelajaran pertama kita adalah memanjat. Leona, Illinov dan Wilhelm kalian maju ke depan dan coba praktikan bagaimana cara memanjat,”

Owen Story: Sekolah Binatang (2)

Sampai di hutan, Owen bertemu dengan Kun, seorang merpati putih. Tak banyak basa-basi Owen langsung mengutarakan niatnya untuk mendirikan sekolah. Tak lupa ia memberitahu tentang beda binatang dan manusia, serta kegunan akal.
“Ini berguna supaya kita bisa menjadi binatang yang sesungguhnya, bahkan bukan mustahil kita bisa melampaui manusia,” jelas Owen.
“Apa kau serius, Owen?” tanya Kun.
“Iya makanya aku ke hutan, dan meminta bantuanmu untuk memberitahu pada binatang yang lain. Tiga jam lagi kita berkumpul di pohon besar di tengah hutan untuk membicarakan niatku dan mengkonsepkan sekolah kita,”
Mereka berpencar, setiap bertemu binatang. Owen dan Kun memberitahukan pertemuan di pohon besar tengah hutan guna membahas pendirian sekolah tersebut. Semua binatang yang ditemui menyetujui ide pembentukan sekolah tersebut. Baru  dua jam saja  sudah ada 20 binatang beragam jenis berkumpul. Dan sesampainya Owen disana, para binatang langsung membentuk barisan.

Owen Story: Sekolah Binatang (1)



Owen adalah seekor burung hantu tua. Ia adalah binatang peliharaan seorang Profesor pendidikan, Uber Kaczynski. Di rumah Prof. Uber, Owen tidak disangkarkan sebagaimana banyak burung-burung lain, ia dibiarkan bebas, karena di rumah Prof. Uber banyak dirimbun pepohonan. Bagi Prof. Uber, Owen adalah teman diskusinya, ini karena Prof. Uber tinggal sendiri, istrinya telah meninggal tanpa memberi keturunan sejak dua puluh tahun lalu. Dan Owen telah menjadi sahabat bagi Prof. Uber sepeninggal istrinya.
Sore itu, Prof Uber baru saja selesai mengajar di Schole University, universitas yang memberi gelar guru besar dalam bidang pendidikan untuknya. Seperti biasa, ia segera bergegas pulang karena sedang tak ada aktifitas di kampus ditambah penyelesaian buku terbarunya. Prof. Uber lebih suka membaca, diskusi dan menulis sembari minum kopi ketimbang mengurus tetek bengek ke-administrasian di kampus. Bahkan dalam tiap kelas yang ia ajar, mahasiswa tak pernah diabsen, karena menurutnya ruang kelas sekarang benar menutup aktualisasi peserta didiknya sebagai manusia.