Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Februari 2015

Shawshank yang Esa

Review The Shawshank Redemption (1994)



Ellis Boyd Redding putus semangat. Ini ketiga kalinya ia sedang dinilai kelayakannya untuk mendapatkan pembebasan bersyarat. Oleh panelis ia ditanya apakah ia sudah terehabilitasi? Sudah siap menjalani hidup di dalam masyarakat kembali? Alih-alih mengiyakan si panelis, Red-sapaan akrab Ellis- berkata panjang lebar sembari mengejek si panelis hingga berujar: rehabilitasi, buatku rehabilitasi hanya omong kosong!
Padahal, di kedua kesempatan sebelumnya pada tahun-tahun sebelumnya, Red sangat antusias menjawab panelis. Ia katakan pada dua kesempatan tersebut bahwa ia sudah sepenuhnya terehabilitasi dan tak lagi jadi ancaman bagi masyarakat. Sayangnya, antusiasme di dua kesempatan sebelumnya tak membuat Red keluar penjara. Kesempatan ketigalah yang buat dia berhasil bebas dari Penjara Shawshank.

Sabtu, 22 November 2014

Jembatan Itu Bernama Agama




REVIEW THE SACRED CANOPY: BAGIAN RELIGION AND WORLD-CONSTRUCTION 
Bila pernah ada pertanyaan mana yang terlebih dahulu hadir? Manusia atau dunia? seluruh manusia yang pernah maupun masih berada di dunia sepakat bahwa dunia secara fisik terlebih dahulu muncul dibanding manusia. Fisika telah menawarkan varian jawaban atas pertanyaan tersebut.
Namun, apakah dunia tanpa manusia masih bisa disebut sebagai dunia? serta apa arti dunia bila manusia absen? Dunia memiliki faedah setelah manusia ada. Dan oleh karenanya, sesungguhnya dunia baik secara fisik maupun metafisik merupakan konstruksi dari manusia yang berkonsesus alias masyarakat.

Meski cuma satu, dunia bisa jadi dipandang bervariasi oleh satu masyarakat dengan yang lainnya. setiap masyarakat berupaya dalam proses pembangunan dunia. namun bagaimana secara sistematis dunia dibangun oelh masyarakat yang merupakan konsesus manusia? Melalui The Sacred Canopy, Peter L Berger punya jawabannya.
Untuk memahami jawaban Berger, awalnya kita harus sepakat dengan Berger yang mengandaikan masyarakat sebagai produk dari manusia yang telah melalui serangkain proses dialektis. Artinya, masyarakat bukan hanya diciptakan oleh manusia, melainkan turut pula menciptakan manusia. Tidak pernah ada manusia yang tercerai dari realitas sosialnya, sehingga manusia mampu pula dipahami melalui realitas sosial yang melingkupinya dan oleh karenananya masyarakat dimana ia ada.

Minggu, 26 Agustus 2012

Merumus Ulang Manusia dan Kemanusiaan


Judul Buku  : Humanisme dan Sesudahnya;
                      Meninjau Ulang Gagasan Besar Tentang Manusia
Penulis        : F. Budi Hardiman
Penerbit       : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Terbit : Juni 2012
Hampir empat abad yang lalu, tepatnya  22 Juni 1633, Galileo Galilei dibawa ke Pengadilan Geraja Italia. Ia diringkus oleh Gereja Italia lantaran dukungannya atas teori Copernicus mengenai perputaran bumi yang mengelilingi matahari. Gereja-Gereja Eropa yang kala itu masih meyakini ajaran Aristoteles bahwa bumi adalah pusat alam semesta tentu saja menganggap Galileo dan keyakinannya sesat.

Gereja-gereja di Eropa yang hingga abad 18 memang punya otoritas absolut atas tindak tanduk manusia yang diterjemahkan lewat ayat-ayat suci, dan ganjaran-ganjaran kehidupan setelah mati. Gereja punya seperangkat dimensi manusia yang harus dipatuhi atas nama kemanusiaan yang dikontrol oleh agama (Kristianitas). Namun, manakala doktrin atas keselamatan individu berubah menjadi alat kontrol atas individu yang penting bukan lagi manusia nyata, melainkan agama.

Atas kondisi tersebut, segala yang bertentangan dengan Gereja sebagai penafsir tunggal atas agama, mulai muncul tindakan-tindakan manipulatif dari Gereja yang mengalienasi manusia dari hidup dan kehidupannya yang otentik. Galileo jadi contoh bagaimana manusia dengan kekhasan kemanusiaanya yang dalam kondisinya ditolak mentah-mentah otoritas Gereja.

Sabtu, 03 Maret 2012

Menelaah Hubungan Pendidikan dan Modal*

Judul                        : Marx and Education
Penulis                    : Jean Anyon
Penerbit                  : Routledge Press
Tahun Terbit           : Desember 2011
Halaman                 : 115 halaman
Anyon mengajak guru, murid, dan orang tua di Amerika untuk memiliki determinasi atas buruknya kondisi pendidikan. Bisakah Indonesia?

Sudah jauh-jauh hari ahli pendidikan revolusioner Brazil Paulo Freire mengingatkan bahwa netralitas terhadap pendidikan adalah sebuah kenaifan. Pendidikan, secara keseluruhan memang digunakan sebagai alat atas upaya menjaga eksistensi kelompok dominan. Lewat kurikulum, metode pengajaran, hingga sistem produksi guru diyakini Freire meciptakan manusia-manusia yang siap menyokong konfigurasi kelompok dominan.

Pendidikan tidak hadir dengan lmu pengetahuan yang tidak berkepentingan. Lewat sekolah, kepentingan menjaga eksistensi kelompok dominan gencar dilakukan. Atas pendangan tersebutlah, paradigma terhadap pendidikan pada akhir 1970-an memiliki dinamika. Lewat pendekatan sosiologis, khususnya perspektif Marxis, ahli-ahli seperti Michael Apple, Pierre Bordieu, Henry Giroux, Paulo Freire memulai analisis sosiologi pendidikan.

Ahli-ahli sosiologi pendidikan ini tidak sepakat bahwa yang diajarkan pada siswa sekolah sebagai pengetahuan objektif, melainkan pengetahuan yang mengandung dominasi budaya, yaitu pengetahuan yang disusun melalui proses selektif yang memasukkan kepentingan tertentu dan membuang yang lainnya.

Minggu, 05 Februari 2012

Hancock

John Hancock menyelematkan Ray Embrey pada insiden perlintasan kereta api
Nilai, Norma, aturan, dan hukum adalah perangkat guna memapankan kondisi masyarakat, tak terkecuali terhadap superhero.

John Hancock (Will Smith) adalah seorang gelandangan Los Angeles. Dengan pakaian lusuh, kotor, bahkan dekil, ia banyak menjalani hidup di kolong jembatan, emperan toko, dan tempat-tempat umum lainnya. Selain karena memang tak memiliki rumah, Hal tersebut dilakukan Hancock karena ia adalah seorang pemabuk akut. Setelah mabuk berat ia bisa tidur dimana saja.

Perilaku di luar batas norma-norma masyarakat tersebut yang membuatnya dibenci orang se-Los Angeles. Akan tetapi, bagaimana orang-orang Los Angeles bisa membenci Hancock? Sedangkan gelandangan di kota tersebut bukan Hancock seorang diri.

Hancock bisa dikenal oleh orang se-Los Angeles lantaran dia adalah seorang superhero. Laiknya Superman ia memiliki kekuatan super: bisa terbang, dan memiliki tenaga yang fantastis. Dan seperti superhero pada umumnya, ia juga turut membantu masyarakat dengan memerangi kejahatan. Walaupun, upaya memberantas kejahatan yang dilakukan Hancock tetap membuat Hancock dibenci.

Kenapa Hancock yang superhero dan banyak membantu masyarakat masih tetap dibenci? Selain karena sikapnya yang memang ugal-ugalan dan ditambah periklakunya yang suka mabuk-mabukan, Hancock dibenci karena kegiatan memberantas kajahatannnya dilakukan diluar norma-norma superhero atau paling tidak proyeksi masyarakat atas tindakan menyelamatkan bumi yang dilakukan superhero.

Rabu, 01 Februari 2012

Pendidikan dan Manusia

Judul Buku      : Mazhab Pendidikan Kritis Menyingkap Relasi Pengetahuan  Politik, dan Kekuasaan
Penulis             : Agus Nuryatno
Penerbit           : Resist Book
Tahun Terbit   : 2008
Halaman           : VI+133 hal




The Neutrality of education is the one of fundamental connotations of the naive vision of education

Sebagai mahasiswa ex-IKIP yang dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga pendidik, pada awalnya, saya-dan semua mahasiswa lainnya-diganjar dengan pernyataan bahwa pendidikan adalah usaha sadar manusia beranjak dewasa atas proses tidak tahu menjadi mengetahui. Transfer knowledge.

Dari institusi berwujud Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) ini saya dipersiapakan untuk mentransfer pengetahuan lewat proses pendidikan, di dalam sekolah. Nantinya pengetahuan-pengetahuan yang saya terima di ruang kelas diharap mampu direproduksi di sekolah dimana saya menjadi pengajar. Prosesnya berputar dari produksi, distribusi, dan konsumsi pengetahuan yang bersifat statis dan punya watak represif untuk membuat kita menjadi permisif atas siklus pengetahuan tersebut.

Saya dituntut untuk menerima pengetahuan secara bebas nilai, menditribusikannya secara bebas nilai, dan memaksa kegiatan konsumsi pengetahuan di sekolah nantinya juga tanpa nilai. Saya sebagai agensi pengetahuan diposisikan untuk tetap menjadi objek dalam fungsinya sebagai distributor pengetahuan kepada masyarakat.

Minggu, 28 Agustus 2011

Tetap Sebuah Mainan

Rilis: Juni 2010
Produksi: Disney/Pixar
Sutradara: Lee Unkrich
Penulis: John Lesseter, Andrew Stanton, Michael Arndt (screenplay)
Pemain: Tom Hanks, Tim Allen, Joan Cussack, Ned Beatty

 
Andy Davis telah berumur 17 tahun dan siap menjadi seorang mahasiswa. Sebagaimana lelaki yang beranjak dewasa, Andy juga mulai belajar meninggalkan masa kecilnya. Ia mulai dunia barunya di dalam kedewasaan. Pun, sebagaimana seorang yang berangkat menuju dewasa, ia meletakan spontanitas, keceriaan kanak-kanak, keluiwesan di balik pintu aturan, kekakuan kedewasaan. Termasuk juga mainannya.

Dengan latar belakang inilah John Lesseter kembali menggarap sequel animasi terbaik sepanjang masa-ada di peringkat tujuh daftar film terbaik sepanjang masa versi IMDB- Toy Story. Pada sequel yang ketiga, Lee Unkrich yang pada sequel sebelumnya berposisi sebagai co-Director, kini dipercaya memegang penuh kendali sutradara. 

Setelah jeda lebih dari satu dekade, Toy Story 3 masih bercerita tentang petualangan Woody (Tom Hanks), Buzz Lightyear (Tim Allen), Jessie (Joan Cussack), Mr. and Mrs. Potato Head, Rex, dan segerombolan mainan lain di rumah Andy Davis.  Namun, karena Andy yang kini sudah beranjak dewasa, dan harus meninggalkan masa kecil termasuk mainannya, maka pertualangan kali ini bukan lagi tentang mainan layaknya mainan untuk anak kecil.

Sabtu, 20 Agustus 2011

Pacar Merah Berwarna Abu-Abu


Genre Fiksi dijadikan alternatif dalam dunia kesustraan untuk bersembunyi dari pengawasan Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda.

 Hasbullah Parindurie alias Matu Mona terlecut semangatnya saat diperlihatkan sekitar empat atau lima pucuk surat oleh Adinegoro, pemimpin redaksi Harian Pewarta Deli-harian di Medan yang terbit pada 1930-an. Matu Mona menemukan gagasan kemerdekaan Indonesia dalam surat yang dibacanya. Bagaimana tak terlecut semangatnya, pada periode itu Indonesia masih dalam cengkraman Kolonial Belanda.
 Matu Mona yang juga seorang redaktur Pewarta Deli merangkap sastrawan memutuskan menulis sebuh cerita dari surat yang dibasanya yang kemudian diketahui dikirim oleh Tan Malaka, seorang tokoh pergerakan di Indonesia. Awalnya, cerita Matu Mona terbit sebagai cerita bersambung di Pewarta Deli pada 9 Juli- 19 september 1933 dengan judul Spionnage Dienst (Pacar Merah Indonesia). Karena mendapatkan sambutan baik dari pembacanya, cerita tersebut kemudian dibukukan pada 1938.
 Apa yang sebenarnya Matu Mona tulis?, hingga ceritanya bisa mendapat antusiasme pembaca yang tinggi. Dalam jilid satu ini-buku ini terdiri dari tiga jilid, Matu Mona menceritakan bagaimana petualangan Tan Malaka sebagai Pacar Merah, buronan polisi rahasia kolonial Hindia-Belanda.

Novel Satir terhadap Komunisme Soviet

MALAM itu Mayor tua dengan gagah berdiri di podium pojok peternakan, ia berdiri dibawah lentera dan diatas kasur jerami. Mayor tua adalah seekor babi berumur duabelas tahun di peternakan Manor milik Tuan Jones. Ia merupakan babai yang bijaksana dan agung. Kala itu mayor telah mengumpulkan seluruh binatang di peternakan Manor untuk mendengarkan mimpinya akan pembebasan para hewan. Anjing, babi, kuda, sapi, domba, burung, ayam yang hadir dengan hikmat mendengarkan cerita Mayor.
Pembebasan yang diimpikan Mayor merupakan sebuah upaya terhadap penindasan yang dilakukan Tuan Jones. Tuan Jones melakukan eksploitasi terhadap para hewan ternaknya untuk kepentingan pribadinya. Semisal, tiap tahun Tuan Jones bisa mendapatkan ribuan galon susu sapi, ratusan telur ayam, berkilo-kilo bulu domba, dari hasil ternakannya. Dari keuntungan yang didapat Tuan Jones tak pernah secara langsung dirasakan para hewan sendiri. Mereka hanya diberi kandang dan jatah makan seadanya-sebatas utuk bisa hidup dan berproduksi. Bahkan tak jarang Tuan Jones lupa memberikan kepada ternakannya, sehingga para hewan pun harus kelaparan.

Cinta


Cinta itu seni, ia butuh pengetahuan dan perjuangan-Erich Fromm

Awalnya sebuah pesan di akun Facebook dari seorang perempuan, isinya sebuah ungkapan kemarahan. Perempuan tersebut marah-marah kepada si empunya akun Facebook tersebut. Ia marah karena ia punya seorang sahabat yang merasa dimainkan oleh si pemilik akun Facebook tersebut. “Kalo memang anda sudah tidak memiliki perasaan dengannya silahkan pergi dan jangan ganggu dia lagi,” ketus perempuan tersebut.
Tentang cinta adalah tentang perasaan, hemat perempuan tersebut. Cinta hanya sejumput perasaan menyenangkan saat ia datang, dan menjadi sebuah keterpurukkan saat ia pergi. Erich Fromm, Psikoanalis dari Jerman membedah habis soal cinta dalam bukunya The Art of Loving. Fromm menolak jauh-jauh bahwa anggapan cinta hanya sebentuk perasaan menyenangkan, menurutnya cinta adalah seni, ia butuh pengetahuan dan perjuangan.
Mengapa cinta butuh pengetahuan? Pertama, kita harus melihat anggapan mengenai cinta dalam masyarakat. Masyarakat umumnya menganggap remeh masalah cinta, cinta baru datang saat ada objek yang tepat dicintai. Padahal, masyarakat jelas membutuhkan cinta. Buktinya larisnya film, lagu mengenai cinta entah itu menyedihkan atau menyenangkan.

Meradikalkan Sistem atau Mensistemkan Keradikalan

Sejak kemunculannya, politik budaya tanding tidak pernah menghasilkan sebuah perubahan. Ironisnya, budaya tanding justru penopang utama bagi berdirinya kapitalisme.


Apa yang harus dilakukan kura-kura untuk bertahan hidup? Menjadi kura-kura. Apa yang harus dilakukan keledai untuk bertahan hidup? Menjadi keledai. Apa yang  harus dilakukan wortel untuk bertahan hidup? Menjadi wortel. Apa yang harus dilakukan manusia untuk bertahan hidup? Menjadi guru, pengacara, tentara, tukang tambal ban, pelayan restoran, Dan yang lain. Bagaimana mungkin, manusia sebagai makhluk tertinggi justru memerankan peran paling bodoh dalam kehidupan.
Untuk mengembalikan peran manusia sebagai makhluk yang bebas, merdeka, lepas dari kerangka dominasi massa, ya mereka melawan. Bagaimana? Awalnya sebuah penemuan atas dunia baru-khususnya kepualauan pasifik-oleh bangsa eropa. Mereka melihat sebuah sebuah tatanan yang egaliter, yang tiap manusia memiliki persamaan hak. Dipengaruhi kondisi eropa saat itu yang sedang mengalami revolusi industri, masyarakat eropa mendamba sebuah involusi kehidupan. Yaitu adalah kembalinya sebuah kehidupan dalam bentuk yang lebih sederhana, seperti yang mereka tahu di dunia baru.