Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa Filsafat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 November 2014

Jembatan Itu Bernama Agama




REVIEW THE SACRED CANOPY: BAGIAN RELIGION AND WORLD-CONSTRUCTION 
Bila pernah ada pertanyaan mana yang terlebih dahulu hadir? Manusia atau dunia? seluruh manusia yang pernah maupun masih berada di dunia sepakat bahwa dunia secara fisik terlebih dahulu muncul dibanding manusia. Fisika telah menawarkan varian jawaban atas pertanyaan tersebut.
Namun, apakah dunia tanpa manusia masih bisa disebut sebagai dunia? serta apa arti dunia bila manusia absen? Dunia memiliki faedah setelah manusia ada. Dan oleh karenanya, sesungguhnya dunia baik secara fisik maupun metafisik merupakan konstruksi dari manusia yang berkonsesus alias masyarakat.

Meski cuma satu, dunia bisa jadi dipandang bervariasi oleh satu masyarakat dengan yang lainnya. setiap masyarakat berupaya dalam proses pembangunan dunia. namun bagaimana secara sistematis dunia dibangun oelh masyarakat yang merupakan konsesus manusia? Melalui The Sacred Canopy, Peter L Berger punya jawabannya.
Untuk memahami jawaban Berger, awalnya kita harus sepakat dengan Berger yang mengandaikan masyarakat sebagai produk dari manusia yang telah melalui serangkain proses dialektis. Artinya, masyarakat bukan hanya diciptakan oleh manusia, melainkan turut pula menciptakan manusia. Tidak pernah ada manusia yang tercerai dari realitas sosialnya, sehingga manusia mampu pula dipahami melalui realitas sosial yang melingkupinya dan oleh karenananya masyarakat dimana ia ada.

Minggu, 26 Agustus 2012

Merumus Ulang Manusia dan Kemanusiaan


Judul Buku  : Humanisme dan Sesudahnya;
                      Meninjau Ulang Gagasan Besar Tentang Manusia
Penulis        : F. Budi Hardiman
Penerbit       : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Terbit : Juni 2012
Hampir empat abad yang lalu, tepatnya  22 Juni 1633, Galileo Galilei dibawa ke Pengadilan Geraja Italia. Ia diringkus oleh Gereja Italia lantaran dukungannya atas teori Copernicus mengenai perputaran bumi yang mengelilingi matahari. Gereja-Gereja Eropa yang kala itu masih meyakini ajaran Aristoteles bahwa bumi adalah pusat alam semesta tentu saja menganggap Galileo dan keyakinannya sesat.

Gereja-gereja di Eropa yang hingga abad 18 memang punya otoritas absolut atas tindak tanduk manusia yang diterjemahkan lewat ayat-ayat suci, dan ganjaran-ganjaran kehidupan setelah mati. Gereja punya seperangkat dimensi manusia yang harus dipatuhi atas nama kemanusiaan yang dikontrol oleh agama (Kristianitas). Namun, manakala doktrin atas keselamatan individu berubah menjadi alat kontrol atas individu yang penting bukan lagi manusia nyata, melainkan agama.

Atas kondisi tersebut, segala yang bertentangan dengan Gereja sebagai penafsir tunggal atas agama, mulai muncul tindakan-tindakan manipulatif dari Gereja yang mengalienasi manusia dari hidup dan kehidupannya yang otentik. Galileo jadi contoh bagaimana manusia dengan kekhasan kemanusiaanya yang dalam kondisinya ditolak mentah-mentah otoritas Gereja.

Jumat, 26 Agustus 2011

Zarathustra Masuk Kampus

Alkisah, pada umur tiga puluh tahunan Zarathustra meninggalkan rumahnya dan pergi ke gunung. Ia mengharap dalam kesendirian itu dapat menemukan sesuatu. Ia muak dengan segala aturan, norma, agama dan moralitas di lingkungan hidupnya, Danau Urmi. Manusia selalu berkutat pada benar-salah, baik-buruk. Yang anehya itu semua justru dibentuk oleh sesuatu yang sama sekali tak pernah diketahui manusia.

Dan setelah sepuluh tahun dalam kesendiriannya, ia turun gunung. Ia menemukan sebuah konsep mengenai Ubermensch, purnamanusia. Semua moralitas yang ia kenal dulu ditampiknya. Ia tahu bahwa semua nilai-nilai itu-yang dianggap baik dan buruk-justru menjadikan manusia bermental budak yang tak pernah merdeka dari dogma. 

Lewat Purnamanusia, Zarathustra yang turun gunung menyerukan untuk menjadi seorang manusia yang menghancurkan nilai-nilai yang telah ada, dengan se-kreatif mungkin mengaktualisasikan diri tanpa pembatas. 

Sabtu, 20 Agustus 2011

Edward Bloom, Nietzsche, dan Anarkhisme

Edward Bloom telah mengetahui bagaimana ajalnya datang sejak kecil. Hal ini diketahui saat Edward kecil bersama beberapa temannya, pada suatu malam menyelinap masuk ke halaman rumah seorang penyihir. Penduduk setempat meyakini, mata si penyihir dapat memberikan gambaran mengenai ajal sesorang. Edward kecil merupakan seorang yang pemberani, tantangan salah satu kawannya untuk masuk menemui si penyihir disambut Edward tanpa ragu-ragu. Tak ada petir, hujan, ataupun badai. Beberapa menit kemudian Edward keluar dengan si Penyihir di balakangnya. Kemudian, satu-persatu teman Edward melihat bagaimana akhir hidupnya dari bola mata si penyihir yang sebelumnya ditutupi penutup mata seperti bajak laut. Menjerit dan lari, hanya itu yang dilakukan teman Edward setelah melihat ajalnya. Tapi, tidak bagi Edward ia hanya berkata. “Oh, jadi begitu cara aku mengakhiri hidupnya.”
Kemurungan, ketakutan, kegelisahan tak hinggap pada hidup Edward setelah kejadian itu. Justru sebaliknya, hidupnya penuh dengan rasa optimisme, kebahagiaan, dan penuh tantangan. Edward muda menerobos semua nilai, norma, sistem dan dogma yang ada dalam masyarakatnya. Hal ini hanya berlandas pada pertemuannya dengan si Penyihir saat ia kecil. Ia berteman dengan Karl, seorang dengan gigantisme yang membuat tubuh Karl seperti raksasa. Karl dianggap raksasa yang kejam yang suka memangsa hewan ternak warga, shingga dianggap momok menakukan oleh warga. Tak hanya itu, ia menerobos hutan belantara yang sangat berbahaya-menurut warga. Ia juga merobek nilai-nilai yang ada dalam masyarakatnya, Ia menikahi seorang gadis yang telah bertunangan dan siap untuk menikah. Hanya karena ia melihat gadis itu di pemakamannya, saat Edward memendang bola mata si penyihir.