Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa Sastra. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Maret 2016

Loteng Daya

Acara berkabung sudah selesai, Daya anak satu-satunya yang telah resmi yatim piatu melipat karpet-karpet yang dipergunakan untuk kembali ditaruh di loteng. Hari in merupakan 40 hari ia menjalani hidup seorang diri. Bapaknya, satu-satunya orang yang menyayangi sekaligus paling dibenci untuk sisa hidupnya harus pergi.
Ada sesak yang tak terkendali saat Daya memutar pandang di loteng. Loteng itu sempat jadi sarana buat seorang bapak menjadikan anak perempuannya sebagai kekasih keduanya, guna melakukan hal-hal yang tak kuasa ia lakukan dengan istrinya. Meski di tempat itu pula, Daya harus bersumpah untuk membenci bapaknya selama sisa hidup.
Tiga gulung karpet berketinggian 3 meter ia letakan di sudut ruangan, loteng ini tak besar dengan bagian atap yang miring karena satu sudut atap harus langsung bertemu dengan sudut lantai, tanpa ada sudut atap lainnya. Di loteng seluruh perabot rumah yang tak berfaedah secara temporer dan enggan dibuang disimpan.
Daya tak pernah ingat pada umur berapa loteng itu hadir. Tapi ia tahu apa alasannya. Bapak Daya tak pernah suka ada hal terjadi tak sesuai keinginannya, begitu juga dalam menata rumah. Ia tak suka misalnya melihat ada keranjang bayi yang disimpan di ruang keluarga karena Daya yang sudah bisa tidur di kasur, dan telah memiliki kamar mandiri. Mulanya keranjang itu disimpan di kamar Daya, tapi bocah perempuan yang mulai bisa berjalan itu selalu mendorong keranjang tersebut keluar kamar sebelum ia tidur. Daya seperti ingin menyebutkan jika ia telah besar dan ia tak ingin ada simbol kekanak-kanakan di sekitarnya, atau setidaknya di kamar miliknya, yang ia anggap adalah kuasanya.
Oleh karenanya bapak Daya memutuskan untuk membuat loteng.

Sabtu, 27 Juli 2013

Rama dan Said

Untukmu, Sahabat.

TANPA BANYAK PIKIR, Rama langsung masuk kamar mandi setibanya di rumah. Ia mau berendam. Hari ini matahari sangat sombong, apalagi hanya untuk menghadapi bocah 8 tahun seperti Rama, ia hanya butuh mengedip. Akibat kesombongan matahari Rama tidak peduli apapun lagi, yang ia mau hanya berendam. Seragam putih merah itu saja sengaja tak dilepaskan, buatnya melepas pakaian tak mampu mengurangi kegerahannya, isi kepala bocah itu hanya dipenuhi air, air, air, dan adzan dzuhur.

Byurrrr, rama mencemplungkan diri ke bak.

Ibu Rama kaget, ia tak menyadari kehadiran Rama dan langsung memeriksa kamar mandi. Ia berteriak kepada Rama dengan mengucap Istigfar. Ia memarahi Rama banyak, karena tak mengucap salam saat masuk, karena tidak mencium tangan ibunya saat tiba di rumah, karena belum melepaskan seragam bahkan kaos kakinya, karena ia berendam di bak. Rama tidak peduli, yang ia inginkan saat itu hanya mendapatkan kesegaran.

“aku mau minum! Aku haus!”

“kemarin yang mau puasa kaya Said siapa? Kamu kan, lagian satu jam lagi juga dzuhur, nanggung dong,”

“tapi aku haus, bu. Minum aja deh gak usah maka. Said kan udah gede aku masih kecil”

“husshh, gak boleh,”

“tapi, aku gak kuat, bu,”

“yaudah kamu disitu aja dulu, nanti kalo udah adzan baru boleh minum. Tapi, bajunya dilepas dulu.”

Hari ini hari pertama anak kelas 2 Sekolah Dasar itu puasa, sedangkan satu jam menuju adzan dzuhur ia habiskan berendam di bak mandi.

Selasa, 12 Februari 2013

Rasa Muak


Tiba-tiba saja, ada yang mengetuk pintu kos. Padahal saat ini sudah jam dua dini hari. Ini jarang kudapati, karena kos miliku selain si Ruki sahabatku tidak pernah ada yang datang kemari. Kulihat dari jendela, ada sosok ber-jas merah dengan dasi garis-garis berwarna biru dongker dan ungu. Sepatunya sangat mengkilap hingga aku yakin mampu bercermin di sepatunya, celananya katun hitam halus tanpa ada satu lekukan lecek. Baru kusadari ia adalah Rudolf teman kelasku.

Aku heran bukan main dari mana ia tahu kosku? Ada urusan apa ia menemuiku? Aku tahu aku satu kelompok dalam presentasi mata kuliah teknik penyulingan besok pagi, tapi aku juga tahu persis selama tiga tahun kami kuliah, ia dan aku tidak pernah satu kali pun mengundang obrolan bersama.

Setelah mempersilakan ia masuk, ia mengutarakan niatnya: ia mau pinjam buku penyulingan air, sembari katakanlah sebuah kegiatan belajar bersama. Di kelas memang cuma aku yang memiliki buku ini, dan bukunya memang sangat berguna. Beberapa kali aku bisa mengetahui apa yang akan dibicarakan dosen sebelum ia memaparkan penjelasan. Bahkan, aku tak jarang membantah dosen berkat buku yang kubaca ini. Buku itu sendiri kudapat dari kakekku, seorang professor terkenal dalam bidang fisika kinetik. Buku ini memang untuk kalangan terbatas, tapi mengetahui minatku yang tinggi terhadap fisika, kakek memberikannya kepadaku.

Tapi aku masih tak habis pikir mengapa si Rudolf mau kemari, menemuiku. Sebelum aku berspekulasi macam-macam kuberi saja Rudolf buku itu. Hematku, paling tidak aku sudah mendistribusikan ilmu. Barangkali nanti kalo si Rudolf sukses, aku akan memiliki  kontribusi akan kesuksesannya.

Aku beri buku tersebut, Rudolf juga tak serta merta pergi dari kosku. Ia membacanya sedikit demi sedikit. Beberapa yang tidak ia mengerti ditanyakan kepadaku. Misalnya mengenai purifikasi kinetik ia benar tidak mengerti, buatnya dengan kemampuan otak yang cekak lebih baik menyediakan saringan dengan lubang kerapatan yang kecil untuk mendapatkan air yang lebih bersih. Kuberi penjelasan: penyaringan memang lumayan berguna untuk benda-benda padat, namun teknik ini kurang berpengaruh untuk memisahkan air dari zat cair ataupun gas yang berbahaya bagi tubuh. Kujelaskan lagi: salah satu cara sederhana adalah dengan mengocok air dengan konstan, malah lebih baik bila sirkulasinya berbentuk lingkaran, walaupun tetap dibutuhkan material khusus dan lebih kompleks untuk hasil yang maksimal. Mendengar banyak penjelasan ia yang juga sadar punya otak tak mumpuni mencatatnya. Kupikir, serius sekali Rudolf ini. Selesai mencatat ia pulang, dan berterima kasih.

“sekarang gua mengerti, paling tidak ini cukup untuk bekal besok. Terima kasih banget, bro, kalo bukan lu, gua pasti bakal megap-megap besok.”

“hahahaha, bisa aja lu.”

Ia pergi, kubukakan pintu. Ada yang aneh, setelah jarak 10 meter membelakangiku, tiba-tiba saja kulihat ia hanya bersarung, dan mengenakan singlet. Mungkin aku terlalu ngantuk.

Keesokan harinya, tibalah giliran kelompokku bersama Rudolf berpresentasi. Kali ini si Rudolf yang banyak mengambil tempat, baik dalam penyajian makalah maupun menjawab pertanyaan-pertanyaan. Walau aku sempat melihat, ia jelas membaca catatan yang kemarin ia buat di kamar kosku. Biarlah, buatku mungkin ini permulaan bagi si Rudolf. Setelah presentasi selesai, semua bertepuk tangan. Si dosen malah bilang untuk menambahkan tepuk tangan bagi Rudolf yang gilang gemilang dalam presentasi tersebut.

“hebat kamu Rudolf, dari mana kamu mengetahui itu semua?”

“ah, biasa aja pak, saya cuma baca buku ini.” Rudolf menunjukkan buku milikku. “ini buku sulit sekali saya dapat, pak. Ini buku untuk terbatas untuk kalangan peneliti saja, saya mendapatkannya dari seorang professor fisika kinetik terkenal. Awalnya saya cuma meminjam, namun professor itu melihat ketertarikan saya yang besar terhadap fisika, kemudian ia memberinya kepada saya.”

Bajingan ini Rudolf, tidak kusangka pertemuan semalam ternyata diniati busuk olehnya. Aku tidak mempersoalkan pengakuannya terhadap buku itu. Aku hanya merasa bangunan pengetahuanku dirusak olehnya, ini sebuah pencurian hak cipta terhadap pengetahuan, dalam presentasi barusan, ia bahkan menggunakan kalimatku dalam menjawab pertanyaan yang kemarin ia lontarkan kepadaku. Terlebih dia menggunakannya untuk memperoleh kesempatan-kesempatan politis yang menguntungkan dirinya.

Mendengar apa yang diucapkan Rudolf saya langsung pukul dia, “Bicara apa lu, ini buku gua, bangsat!” Aku yang menjadi sangat reaksioner, kemudian dapat hardikan oleh dosen yang kemudian memarahiku. Aku jelaskan mengenai kejadian semalam, namun aku yang terlanjur mempresentasikan kebrutalan di depan dosen tak sekalipun digubris. Si dosen malah mencaciku.

“Sudah, pak tidak apa-apa. Mungkin karena terlalu lama saya meminjami buku ini kepadanya, jadi ia menganggap ini buku miliknya.”

“oh, jadi kamu sempat meminjami buku ini kepadanya?”

“iya, pak, selama ini ia aktif di kelas, karena belajar kepada saya. ia bisa bergumen panjang lebar juga karena penjelasan saya yang ia catat. Bahkan awalnya ia mengambil buku ini tanpa sepengetahuan saya, setalah saya tahu maka saya pinjami saja dengan saya nasihati, bila ilmu memang tidak bisa dikuasai sendiri.”

Rudolf bajingan! Kupukul lagi ia. Ia terjatuh

“Berhenti! Kamu setelah jam pelajaran ini selesai silakan menemui saya di ruangan saya!.” kata si dosen kepadaku.

Dasar hipokrit bajingan, tahu ceritanya seperti ini jangankan kupinjami buku ini, kupersilakan masuk, memegang tuas pintuku saja akan kuhajar kau semalam. Rudolf kemudian bangun, sembari mengeraskan suaranya ia menyodor buku itu kepadaku, “bila ingin pinjam bilang saja, jangan mengaku-ngaku seperti itu.” Kemudian suaranya ia pelankan: baik dan buruk cuma interpretasi, hati-hatilah!

Anjing!

Selasa, 18 Oktober 2011

Aku (Mau) Mati


Sejak bertemu orang tua itu selepas pulang kantor kemarin, aku punya niat untuk mati. Alasan pertama, atasanku adalah supplier masalah buat semua pegawainya, termasuk aku-karena aku asisten pribadinya aku yang paling banyak disodor masalah darinya. Dengan kepala botak dan badan gemuk pun kumis dan jambang yang hampir melebat sepinggir mukanya, dia cerminan manusia perfeksionis yang tidak melewat kesalahan sekecil apapun. Kedua, sejak kecil, aku dianugerahi Tuhan dengan sifat introvert dan inferior yang akut, makanya aku lebih suka sendiri untuk hal apapun. Sayangnya, aku kini tak mampu lagi menahannya sendiri dan belum juga aku lepas dari penjara jiwa ini.

Aku ingat betul apa yang dikatakan orang tua itu. Awalnya, saat keluar kantor, aku mampir ke warung untuk membeli rokok di seberang jalan. Karena aku lihat lalu lintas jalan yang masih padat, kuputus untuk sejenak merokok di warung tersebut. Tak lama, datanglah si orang tua tersebut.

“Permisi, boleh saya tahu apa saya masih hidup?” tanyanya.

“Hah?” kagetku.

“Iya,saya mau tanya. Apa saya masih hidup?”

“Haha, iya, bapak masih hidup. buktinya bapak mengajak bicara saya, bapak masih bernafas, bapak juga terlihat bugar. Artinya anda masih hidup.” sinting betul ini orang tua, pikirku.

“Oh, jadi hidup itu bagaimana organ-organ dan fungsi biologis tubuh masih berfungsi?”

“Kurang lebih seperti itu,”

“Apa beda hidup sepeda motor dengan hidup manusia? Mereka punya pola yang sama seperti anda sebut. Bernafas, walau beda zat. Manusia dari gas menjadi gas dan air, sepeda motor dari air menjadi gas.” Makin aneh si orang tua bicara.

“Entahlah, yang kutahu sewaktu sekolah ya itu yang aku papar barusan,”

“Setalah anda bekerja di kantor, setelah anda tidak sekolah. Anda tidak lagi hidup? oh bukan maksud saya anda tidak lagi mencari tahu apa itu hidup?”

Aku mulai tidak bisa menjawab. Aku mulai agak risih atas kehadirannya. Aku pikir aku lebih baik meninggalkannya, masalah yang diberikan atasanku sudah lebih dari standar masalah yang diberi Tuhan kepada manusia, aku tidak mau ditambah dengan ocehan omong kosong dari orang tua ini. Maka aku langsung meninggalkan warung tersebut. Hampir seratus meter aku berjalan tiba-tiba si orang tua meneriakiku.

“Hey, bagaiamana bila kita mati saja?”

Sabtu, 20 Agustus 2011

Ketika Oemar Bakrie Bertemu Erich Fromm


Hari itu, Oemar Bakrie baru saja selesai mengajar di kelas, ia langung menuju ruang guru dan makan siang. Guru-guru lain yang saat itu berada di ruang yang sama juga sedang asik menghabiskan waktu istirahatnya dengan melahap santapannya masing-masing. Jam mengajar Bakrie sudah habis, ia memutuskan langsung pulang ke rumah.
 Di parkiran Bakrie tak mengambil sepeda kumbang yang biasa gunakan, ia menuju sebuah sepeda motor keluaran terbaru. Maklum, Bakrie baru saja mengikuti program sertifikasi guru yang telah manjadikannya seorang guru professional yang layak diberi upah secara professional pula. Maka tak heran setelah beberapa bulan mengumpulkan uang dengan gajinya yang ‘baru’ juga ditambah tunjangannnya, Bakrie dapat membeli sepeda motor dengan tunai.
 Setelah berpamitan dengan Udin, satpam sekolah, Bakrie langsung tancap gas. Jarak antara sekolah dengan rumah Bakrie memang cukup jauh dengan jalan yang berlubang. Di perjalanan ban sepeda motor Bakrie pecah, untung tak jauh dari Bakrie berhenti ada tukang tambal ban.