Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa Sosiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa Sosiologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Maret 2015

Merevitalisasi LPTK


Oleh: Anggar Septiadi dan Kurnia Yunita Rahayu*

PENGANTAR
Bisa jadi tulisan ini telat muncul di tengah arus utama berita Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla yang sedang didesak menuntaskan beragam kisruh politik serta aplikasi kebijakan ekonominya. Meski demikian, hal-hal tersebut juga yang mendorong tulisan ini dibuat.
Ada beberapa kenyataan sekaligus pertanyaan yang melandasi tulisan ini. Khususnya  soal mengapa porsi diskursus guru dalam mengurai persoalan pendidikan selalu menjadi pertimbangan kesekian setelah problem kurikulum, dana pendidikan, partisipasi pendidikan, hingga persoalan konfigurasi mata pelajaran apa yang seharusnya diberlakukan untuk menjadikan seorang menjadi seorang Indonesia. Padahal semua hal tersebut (seharusnya) dirangkai oleh seorang guru.
Sekalipun ada, ihwal guru akan selalu berkutat pada masalah eksternalisasinya yakni kesejahteraan, kualitas, hingga moral guru. Terlebih belakangan juga Menteri Anies Baswedan kerap bicara soal peningkatan kualitas guru tapi sama sekali tak menyentuh bagaimana operasi sirkuit produksinya: Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).
Oleh karena itu, penulis beranggapan bahwa ada urgensi untuk membahas bagaimana posisi LPTK kekinian sebagai rahim lahirnya guru. Sehingga pada tahap berikutnya kita bisa sedikit memprediksikan bagaimana program pendidikan Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla mampu untuk dilaksanakan dengan meneropong konfigurasi guru yang seperti apa yang coba diciptakan oleh Pemerintahan Jokowi-JK.
Tulisan ini sendiri akan dibagi ke beberapa bagian, pertama menyoal bagaimana sejarah singkat lembaga pendidikan guru Indonesia. Bagian kedua akan memperlihatkan bagaimana konstruksi guru yang diposisikan sebagai buruh. Sedangkan bagian ketiga akan mengontekstualisasikan dua soal tersebut dengan kebutuhan sekarang.

Senin, 23 Februari 2015

Shawshank yang Esa

Review The Shawshank Redemption (1994)



Ellis Boyd Redding putus semangat. Ini ketiga kalinya ia sedang dinilai kelayakannya untuk mendapatkan pembebasan bersyarat. Oleh panelis ia ditanya apakah ia sudah terehabilitasi? Sudah siap menjalani hidup di dalam masyarakat kembali? Alih-alih mengiyakan si panelis, Red-sapaan akrab Ellis- berkata panjang lebar sembari mengejek si panelis hingga berujar: rehabilitasi, buatku rehabilitasi hanya omong kosong!
Padahal, di kedua kesempatan sebelumnya pada tahun-tahun sebelumnya, Red sangat antusias menjawab panelis. Ia katakan pada dua kesempatan tersebut bahwa ia sudah sepenuhnya terehabilitasi dan tak lagi jadi ancaman bagi masyarakat. Sayangnya, antusiasme di dua kesempatan sebelumnya tak membuat Red keluar penjara. Kesempatan ketigalah yang buat dia berhasil bebas dari Penjara Shawshank.

Rabu, 24 Desember 2014

Komodifikasi Agama: Hutang Besar Agama terhadap Kapitalisme

Mengapa agama masih bertahan di tengah modernitas? 

Ada problem yang cukup kompleks ketika membahas agama dengan karakter irrasionalnya di tengah-tengah masyarakat yang menjunjung tinggi akal sehat. Untuk menjelaskannya ada tiga ihwal yang akan dibahas: konstruksi agama, modernitas, kebertahanan agama.

Pembahasan akan kita mulai dengan konstruksi agama dalam perspektif Berger. Dalam The Sacred Canopy (1967) secara sederhana agama didefinisikan Berger sebagai hasil dari dialektika masyarakat yang punya faedah sebagai ikhtiar menuju tatanan masyarakat yang lebih baik dan makin sempurna 

Agama dijadikan perpanjangtanganan atas eksplanasi-eksplanasi untuk apa-apa yang terjadi di luar dunia manusia, dan oleh karenanya di luar masyarakat. Hal ini terjadi karena manusia punya keterbatasan tertentu untuk berinteraksi dengan dunia. 

Sebab manusia tak sama dengan hewan maupun tumbuhan yang memiliki konfigurasi langsung dengan alam, manusia harus membentuk dirinya sedemikian mungkin agar cocok dengan konfigurasi alam. 

Dengan keterbatasan yang dimiliki itulah muncul konsepsi mengenai sebuah kekuatan yang Maha Dahsyat, yang dipercaya menjalankan semua operasi dunia. Sedangkan agama jadi jembatan untuk memahami yang Maha Dahsyat tadi.

Dari penjelasan di atas, satu kesimpulan singkat mampu diraih bahwa manusia jelas membutuhkan penjelasan-penjelasan mengenai apa-apa yang terjadi di luarnya. Penjelasan Berger tersebut mampu dipahami dalam konteks masyarakat tradisional dimana sarana IPTEK nya belum mampu mengakomodasi hal tersebut. 

Sabtu, 22 November 2014

Jembatan Itu Bernama Agama




REVIEW THE SACRED CANOPY: BAGIAN RELIGION AND WORLD-CONSTRUCTION 
Bila pernah ada pertanyaan mana yang terlebih dahulu hadir? Manusia atau dunia? seluruh manusia yang pernah maupun masih berada di dunia sepakat bahwa dunia secara fisik terlebih dahulu muncul dibanding manusia. Fisika telah menawarkan varian jawaban atas pertanyaan tersebut.
Namun, apakah dunia tanpa manusia masih bisa disebut sebagai dunia? serta apa arti dunia bila manusia absen? Dunia memiliki faedah setelah manusia ada. Dan oleh karenanya, sesungguhnya dunia baik secara fisik maupun metafisik merupakan konstruksi dari manusia yang berkonsesus alias masyarakat.

Meski cuma satu, dunia bisa jadi dipandang bervariasi oleh satu masyarakat dengan yang lainnya. setiap masyarakat berupaya dalam proses pembangunan dunia. namun bagaimana secara sistematis dunia dibangun oelh masyarakat yang merupakan konsesus manusia? Melalui The Sacred Canopy, Peter L Berger punya jawabannya.
Untuk memahami jawaban Berger, awalnya kita harus sepakat dengan Berger yang mengandaikan masyarakat sebagai produk dari manusia yang telah melalui serangkain proses dialektis. Artinya, masyarakat bukan hanya diciptakan oleh manusia, melainkan turut pula menciptakan manusia. Tidak pernah ada manusia yang tercerai dari realitas sosialnya, sehingga manusia mampu pula dipahami melalui realitas sosial yang melingkupinya dan oleh karenananya masyarakat dimana ia ada.

Senin, 01 April 2013

Menunggu Mesias


Tanggapan atas Tulisan Ahmad Tarmiji Alkhudri; Menjadi Guru Tranformatif: Memformulasikan Pendidikan Karakter Melalui Pembelajaran Inovatif dan Humanis.

Pendahuluan

Selain wacana perubahan kurikulum 2013, belakangan perbincangan profesi guru sering jadi buah bibir masyarakat. Hal ini karena sejak pertengahan 2012, ada tujuh mahasiswa yang menginginkan revisi dari Undang-undang Guru dan Dosen no. 14 tahun 2005. Mereka memersoalkan adanya lulusan non-LPTK yang disesejarkan dengan lulusan LPTK untuk memeroleh restu mengajar melalui PPG dari UUGD tersebut. Makanya tujuh mahasiswa itu kelimpungan dan berniat mengajukan gugatan judicial review atas UUGD untuk hal pasal tersebut. Usaha yang dimulai pada pertengahan 2012 ini akhirnya mentok pada kamis (28/3) ketika MK menolak gugatan ketujuh mahasiswa tersebut.[i]

Ada sesuatu yang menarik dari cerita di atas. Yakni konfrontasi antara kemampuan pedagogik seorang guru dan kemampuan keilmuan-misalnya guru fisika harus memiliki kemampuan yang setara dengan fisikawan-yang juga selalu jadi problem semenjak konversi IKIP menjadi sebuah universitas. Problem ini yang saya pikir juga dicoba dijawab Alkhudri dalam Menjadi Guru Tranformatif: Memformulasikan Pendidikan Karakter Melalui Pembelajaran Inovatif dan Humanis.

Alkhudri mengandaikan ada satu lagi peran guru selain dalam fungsi mendidik (pedagogik) dan pengembangan keilmuan, yakni guru memegang peran penting dalam usaha transformasi sosial. Artinya setalah dua peran tersebut ditunaikan guru, ia berfungsi merangsang peserta didik agar mampu memiliki kecakapan sosial yang mampu menjawab zaman.

Senin, 14 Januari 2013

Einsten, Bir, dan Kritik



Untuk ibu-ibu yang tak kuat digoda kritik: Merumuskan hal-hal negatif dari suatu masa transisi jauh lebih bermakna ketimbang karir akademis-Max Horkheimer


‘Little Boy’ dan ‘Fat Man’ memang bukan sembarang tamu, mereka berdualah yang datang tak diundang pada 6 dan 9 Agustus 1945 di Hiroshima dan Nagasaki. Setelah mereka berdua tiba, hampir dua ratus ribu manusia lenyap seketika, yang bersisa pun harus menanggung cacat seumur hidup. Peristiwa ini adalah salah satu bencana terbesar kreasi manusia.

Enam tahun sebelum Hiroshima dan Nagasaki kejatuhan ‘si anak kecil’ dan ‘si gendut’, Albert Einsten si jenius abad dua puluh mengirimi surat kepada Presiden Amerika Franklin D. Roosevelt pada 2 Agustus 1939. Kurang lebih isi surat tersebut berisi: desakan kepada pemerintah AS untuk mengembangkan rumus mahsyur miliknya: E=M.C2 untuk menciptakan bom atom guna melumpuh pemerintah Nazi Jerman.

19 Oktober 1939, Presiden Roosevelt menandatangani proyek pengembangan bom dengan nama Manhattan Project sembari mengesahkan  Komite Pengembangan Senjata Atom dua hari setelahnya. Einsten sendiri kala itu sudah menetap di Amerika karena adanya pengusiran orang-orang Yahudi Jerman, ia salah seorang Yahudi yang terusir.

Entah apa yang ada di pikiran Einsten kala menyurati Roosevelt untuk bergegas mencipta bom atom. Yang ia tahu kala itu adalah Jerman lewat desas-desus telah memepersiapkan senjata super untuk memenangi Perang Dunia kedua. Einsten sendiri menyesal dan tidak mengira bahwa dampak dari bom atom tersebut sedemikian destruktif. ”Jika mengetahui akan menjadi sampai sedemikian akibatnya, lebih baik saya menjadi tukang reparasi arloji saja,” sesalnya.
Satu yang menarik adalah bahwa problem Einsten bisa dimaknai sebagai problem positivistik, secara vulgar bencana Hiroshima dan Nagasaki bisa ditelisik atas kecenderungan positivistik sebagai penyebabnya. Yakni, pemisahan antara pengetahuan dan kepentingan manusia. Buat orang-orang positivistik, pengetahuan adalah sebuah entitas mandiri yang tanpa campur tangan manusia ia bisa hidup dan bergerak. Sementara saat diturunkan kepada dunia manusia ia tidak akan merubah nilainya.

Ada salah satu lelucon menarik mengenai Einsten dari aktor dan sutradara Australia Greg Pead atau yang terkenal dengan nama beken Yahoo Serious. Dalam film besutannya Young Einsten(1988) ia memposisikan Einsten sebagai bocah eksentrik dari kepulauan Tasmania, Austalia. Einsten muda berasal dari keluarga petani Apel yang dituruni sebuah laboratorium rahasia untuk membuat bir yang memiliki gelembung.

Ceritanya si Eisnten muda mampu memecahkan teka-teki yang hingga lima generasi keluarga Einsten tak mampu membuat bir dengan gelembung. Ia menemukan bir versi gelembung dengan rumus yang baru saja ia ciptakan: energi sama dengan masa dikali kecepatan cahaya kuadrat. Setelah berhasil, ia berniat mematenkan rumus temuannya ke Sidney. Namun di tengah jalan rumus tersebut dicuri, dan oleh si pencuri rumus tersebut dijadikan dasar untuk membuat senjata nuklir yang dapat diperjualbelikan bagi negara yang doyan perang.

Rabu, 02 Januari 2013

Defragmentasi Kelas: Upaya Revitalisasi Konsep Kelas Karl Marx


Beberapa minggu yang lalu Jurusan Sosiologi UNJ didatangi beberapa aparat kepolisian. Kedatangannya bukan karena ada tindak kriminal yang dilakukan Jurusan Sosiologi UNJ ataupun mahasiswa/I nya, melainkan dalam upaya sosialisasi kemanan dalam berkendara dan berlalu lintas. Acara tersebut dibungkus dengan tajuk program pengabdian masyarakat.
Mengenai manusia berkendaraan yang melalu lintas selalu tampil wajah-wajah arogan, baik dari pelanggar (agen) maupun kontribusi aparat nakal (struktur). Perbincangan diskusi tersebut juga bermuara kepada perseteruan siapa yang mendeterminir? Agen atau struktur? Dalam kosmos sosiologikal hal ini telah menjadi perdebatan klasik, pemikir sosiologi makro juga banyak terproblematisir dalam aras tersebut, Durkheim, Marx sebagai nabi strukturalis, sementara Webber sebagai kafir yang membawa risalah pentingnya agensi.
Selanjutnya banyak yang masih merapal teks suci Marx dan Durkheim, tak sedikit pula yang menyuburkan kekafiran Webber. Dari dua kelompok ini kemudian muncul nabi-nabi sekuler yang berusaha mendamaikan kedua kelompok ini. Agak jauh melompat, kita menemukan nama Anthony Giddens walau bukan yang pertama namun ajaran mengenai sekularisasi agen dan struktur cukup berpengaruh dan komplit.
Giddens terutama menolak determinisme struktur, dalam istilahnya agensi dan struktur adalah dualitas yang mirip-mirip dua sisi mata uang, yang meskipun berbeda ia ada dalam satu bagian. Struktur satu hal yang diorganisasikan oleh aturan dan sumberdaya, lintas waktu dan ruang yang disimpan atas proses institusi dan pengkoordinasian lewat melacak sejarah, serta ditandai atas kehadiran subjek [i]
Kesan dialektis ingin ditampilkan Giddens sebagai pertautan antara Agen dan Struktur. Ia menekankan pada praktik-praktik manusia yang kemudian diinstitusikan dan kemudian menjadi sebuah hal yang harus dilakukan oleh manusia-manusia lainnya. Namun, Giddens memang tidak ingin tertidak mau terjebak dalam determinisme struktur, kemudian ia menekankan bahwa aktor juga tidak hanya memantau secara berkelanjutan dari perkembangan aktifitas mereka dan mengharapkan mereka melakukan hal yang sama. Aktor juga melihat aspek sosial dan fisik dimana ia bergerak.
Lebih dari itu aktor juga dapat memonitor proses monitoring tersebut dalam kesadaran diskursif. Skema interpretatif ini merupakan modus dari basis-basis pengetahuan di dalam kesadaran diri aktor, yang kemudian diaplikasikan secara reflektif dalam komunikasi berkelanjutan.[ii] Dalam hal ini, secara lebih umum Giddens memerhatikan proses dialektis ketika praktik, struktur dan kesadaran dihasilkan.

Jumat, 02 November 2012

Post-Modernisme: Proyek Emansipasi Setengah Hati


Biasanya, ihwal Post-Modernisme akan dimulai dengan penjelasan bagaimana ia lahir dari ketidakpuasan proyek Modernitas. Modernitas yang pada awalnya diklaim sebagai solusi atas problem manusia dan kemanusiaan, diyakini pemikir Post-Modernisme justru makin mematikan manusia dan kemanusiaanya.
Namun, biarkan saya memulai menulis mengenai Post-Modernisme dari sastrawan cum jurnalis Goenawan Mohammad (GM).  GM dalam banyak tulisannya telah menunjukkan kecenderungan Post-Modernisme. Tidak perlu jauh-jauh melihat kecenderungan Post-Modernisme GM, sila baca Majalah Tempo, Edisi 29 Oktober-4 November 2012 dalam rubrik Catatan Pinggir yang diampunya sejak Majalah Tempo berdiri.
Edisi tersebut menyajikan GM sebagai seorang Post-Modernis. Dengan judul: Shih, GM bercerita mengenai monopoli Pemerintahan Republik Cina yang kala itu dipimpin Chiang Khaisek. Satu regu Biro Monopoli Tembakau Pemerintah Cina diceritakan GM merampas rokok, dan hasil penjualan rokok seorang pedagang di Taipe, Taiwan.
Kejadian ini kemudian meluas menjadi sebuah aksi protes terhadap otoritarianisme Pemerintahan Cina, yang kemudian secara reaksioner dibalas Chiang Khaisek dengan upaya pembersihan besar-besaran di Taiwan. 4000 orang terbunuh.
Bagian selanjutnya, GM bercerita mengenai saksi mata peristiwa tersebut: Shih-Ming Te. Shih bukan hanya saksi mata atas peristiwa tersebut, ia kemudian menjelma menjadi aktivis yang mengupayakan kebebasan Taiwan atas kekuasaan yang menindas. Akibatnya, 25 tahun hidupnya dihabiskan di penjara sebagai imbalan atas aksi protes menentang Pemerintah Cina.
Dalam kepala tulisan (Lead) GM menulis: Tak mudah mengatakan apa itu keadilan, tetapi tentang ketidak-adilan orang dapat mengenalinya dengan seketika. Shih juga merasakannya, ketika banyak ancaman, kekerasan, intimidasi dan varian bentuk penindasan bertamu ke hidupnya, ia dengan mudah mengklasifikasi bentuk tersebut sebagai sebuah ketidak-adilan. Namun, seringnya ia mendapat situasi tidak-adil, Shih tiba pada pertanyaan: lantas, apa itu sebuh keadilan?.

Jumat, 12 Oktober 2012

Sosiologi Povokasi!


Pendahuluan

Awalnya adalah diskusi kelas mengenai bagaimana kurikulum Jurusan Sosiologi UNJ ditinjau melalui teori-teori sosiologi. Dalam diskusi yang diikuti delapan kelompok tersebut, hanya ada satu kelompok yang menggunakan teori konflik sebagai landasan guna meninjau kurikulum Jurusan Sosiologi, sisanya menggunakan teori fungsionalisme Emile Durkheim.

Dari diskusi tersebut hadir pertanyaan apa tujuan Jurusan Sosiologi yang termanifestasikan dalam visi dan misi Jurusan Sosiologi. Muncul juga beragam jawaban yang sifatnya normatif. Misalnya: munculnya pelatihan IT (Informasi Teknologi), komputer, diyakini mampu menjadikan mahasiswa menjadi guru sosiologi yang tanggap akan teknologi. 

Semua kebijakan kurikulum sosiologi diimani menjadi pendorong mahasiswa menjadi guru sosiologi yang kompeten sekaligus menjawab tantangan zaman. Sampai ada salah satu peserta diskusi yang menganggap kemunculan mata kuliah Sosiologi Agama diharapkan mampu meningkatkan iman dan taqwa mahasiswa, dan menunjang dimensi religi dalam konfigurasi guru yang sempurna.

Kemudian saya heran, kenapa jurusan yang memiliki visi menjadi program studi unggulan di tingkat nasional yang menghasilkan sarjana sosiologi yang mampu bernalar sosiologis ini justru malah menghadirkan iklim yang tidak sosiologis, dengan contoh tersebut. Beberapa paper yang sempat saya lihat malah hanya mengutip dari wikipedia.

Menjadi arogan bila menyalahkan peserta didik yang tidak mampu bernalar sosiologis sementara Jurusan Sosiologi sebagai struktur yang mengonformitas justru tidak pernah merangsang mahasiswa bernalar sosiologis. Lantas menjadi wajar bila mengatakan kurikulum Jurusan Sosiologi UNJ belum berhasil atawa gagal.

Atas kondisi tersebut muncul ketertarikan buat menggunakan teori kritis khususnya yang diusung institut frankfurt buat menganalisis kurikulum Jurusan Sosiologi UNJ.

Sabtu, 15 September 2012

Helvetica


Ada banyak prinsip yang dapat digunakan seorang desainer grafis. Namun, bagi desainer karbitan macam saya, prinsip KISS (Keep It Simple, Stupid!) nampaknya memang paling cocok. Mengapa cocok? Buat saya, seorang desainer grafis layaknya seorang nabi. Ia harus menyampaikan pesan yang mampu dicerna oleh khalayak umum lewat media yang ia ciptakan. Makanya, prinsip KISS memang sangat efektif digunakan bahkan bagi desainer yang mapan.

Dalam KISS efektifitas jadi panglima. Ia memadukan semua komponen visual yang dibutuhkan dengan menyederhanakan bentuk, demi menuju tatanan fungsionalis. Materi-materi penyusunnya juga berasal dari bentuk-bentuk yang sederhana. Satu yang jadi langganan dalam merayakan KISS adalah tipe huruf (font) Helvetica yang punya karakter sederhana dengan tingkat keterbacaan yang tinggi. Manuel Krebs dalam Film Dokumentasi: Helvetica! menyatakan, “If You’re not a good designer, and if you are not a designer. just use Helvetica. It looks Good!”

Saya sendiri sangat menggandrungi Helvetica. Dalam mendesain, belakangan saya tidak perlu banyak-banyak memakan waktu, karena dalam urusan memilih huruf, Helvetica pilihan utamanya. Helvetica sendiri lahir 1960 di tangan Max Miedinger dan Eduard Hoffman dari perusahaan pembuat huruf Haas di Swiss. Hingga kini, Helvetica menjadi huruf yang paling sering digunakan di dunia untuk keperluan visual.

Max dan Eduard mengklaim bahwa Helvetica adalah anak kandung dari modernitas. Ia lahir atas sebuah optimisme sebuah modernitas yang apik setelah kemencekaman dunia lewat Perang Dunia Kedua, khususnya Fasisme. Buat mereka berdua, makna hanya dikandung oleh kata-kata, bukan oleh huruf. Makanya huruf harus bersifat netral dan tidak perlu sifat dan bentuk yang ekspresif. Huruf hanya punya satu fungsi: tingkat keterbacaan (legibility) tinggi.

Minggu, 26 Agustus 2012

Merumus Ulang Manusia dan Kemanusiaan


Judul Buku  : Humanisme dan Sesudahnya;
                      Meninjau Ulang Gagasan Besar Tentang Manusia
Penulis        : F. Budi Hardiman
Penerbit       : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Terbit : Juni 2012
Hampir empat abad yang lalu, tepatnya  22 Juni 1633, Galileo Galilei dibawa ke Pengadilan Geraja Italia. Ia diringkus oleh Gereja Italia lantaran dukungannya atas teori Copernicus mengenai perputaran bumi yang mengelilingi matahari. Gereja-Gereja Eropa yang kala itu masih meyakini ajaran Aristoteles bahwa bumi adalah pusat alam semesta tentu saja menganggap Galileo dan keyakinannya sesat.

Gereja-gereja di Eropa yang hingga abad 18 memang punya otoritas absolut atas tindak tanduk manusia yang diterjemahkan lewat ayat-ayat suci, dan ganjaran-ganjaran kehidupan setelah mati. Gereja punya seperangkat dimensi manusia yang harus dipatuhi atas nama kemanusiaan yang dikontrol oleh agama (Kristianitas). Namun, manakala doktrin atas keselamatan individu berubah menjadi alat kontrol atas individu yang penting bukan lagi manusia nyata, melainkan agama.

Atas kondisi tersebut, segala yang bertentangan dengan Gereja sebagai penafsir tunggal atas agama, mulai muncul tindakan-tindakan manipulatif dari Gereja yang mengalienasi manusia dari hidup dan kehidupannya yang otentik. Galileo jadi contoh bagaimana manusia dengan kekhasan kemanusiaanya yang dalam kondisinya ditolak mentah-mentah otoritas Gereja.

Bangga


Spanduk itu memang banyak mencuri perhatian. Ukurannya besar. Kurang lebih 8 x 1 meter. Tulisannya Gue Bangga Jadi Mahasiswa UNJ ditambah lambang UNJ di pojok. Bila benar, spanduk tersebut dipasang mulai Juli di Teater Terbuka. Saya tidak tahu siapa yang memasang. Apalagi niatnya. Saya tak peduli. tapi spanduk itu tetap menjambret perhatian. Khusunya buat mahasiswa baru.

Teman saya jadi korban. Gara-gara spanduk tersebut, Ia kecopetan perhatian. Ia gadis 17 tahun, baru lulus SMA. Diterima di Jurusan Akuntansi UNJ, lewat jalur Penmaba. Saat daftar ulang saya mengantarnya ke BAAK buat urus syarat-syarat administratif sekaligus urusan birokratis lainnya. ia tak hirau spanduk itu hinnga melihat antrian panjang menuju petugas loket. Ia mengendur semangat. Mengajak saya mencari selasar. Melempar pandang. Pandangnya terhenti sejenak di spanduk.

Si gadis lulusan tulen SMA Indonesia. Tak banyak tingkah. Hijau. Polos. Perhentian mata di spanduk itu membuah manifestasi semua yang ia dapat di bangku sekolah. “Memang mahasiswa UNJ tidak bangga dengan kampusnya sendiri, ya?” ucapnya. Polos. Saya masih tidak peduli hingga si gadis mengulang pertanyaannya dua kali. Saya menjawab seadanya, “sabar, sebentar lagi juga akan tahu apa yang dirasa si pemasang spanduk.”
Inferior. Satu kata yang mampir di kepala saya setelahnya. Sebuah rasa ketidakpercayaan diri akut. Rendah diri. Menganggap dirinya sangat rendah dihadapan apapun dan siapapun. Dalam tingkat tertentu, omongan si gadis benar. Kenapa harus dibuat spanduk besar dan lebar buat menyemat kebanggan? Apa sudah tak ada lagi yang mampu dibanggakan hingga mengguna cara-cara instan seperti memasang spanduk? Bukan. Bukan spanduk yang jadi masalah. Utamanya hal yang ingin diungkap si spanduk.

Saya tak mau lagi ungkit tentang kasus korupsi, biaya kuliah yang menjulang, atau sistem perkuliahan amburadul. Tapi, apa efeknya sangat sangat meraba ranah kejiwaan sampai menerbit inferioritas yang akut. Dibaca terbalik, spanduk itu memuncul krisis identitas. Ketidakpercayaan terhadap almamater. Sebelumnya, saya yakin ini semua telah diketahui walau semua pura-pura tidak tahu. Saya kagum sekaligus heran. Bila sudah ada pernyataan seperti ini, ranahnya bukan lagi individual melainkan kolektif. Sudah jadi perihal sosiologis.

Hipokrit. Kata kedua yang bertandang. munafik. Cari peluang yang menguntungkan. Berpura-pura. Di luar berpenampilan gagah, arogan, mewah. Liat itu gedung tinggi! Bayaran berjuta-juta! Kloset duduk dengan air cebok yang memancur otomatis! Sementara di dalam hanya ada brankas penyimpan takut, cemas, panik. Atas isi brankas itu muncrat cara-cara temporer. Spanduk salah satunya. Tidak menjamah masalah utama.

Citra awal harus menggoda. Citra jadi cara ampuh menyembunyikan inferioritas stadium akhir. Masa pembinaan selepas MPA mencitrakan UNJ sesak kegiatan akademik. Ada juga yang disembunyikan. Fakta bahwa belakangan waktu UNJ tak sempat hadir di perhelatan akademik macam PIMNAS. Pun sulit mendapat hibah program kreatifitas mahasiswa jadi alasan masa pembinaan mahasiswa ada. UNJ sadar ia tidak berkutik. lagi-lagi jalan pintas yang ditempuh. Seperti indomie. Instan.

Kembali ke si gadis dan saya. Si gadis tampak heran ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi disini. Saya ambil kesempatan atas polosnya. Saya terangkan bahwa kata bangga dalam Bahasa Jawa punya arti lain. Bangga: tidak mau menurut, pembangkang. Lema ini sudah diadopsi menjadi Bahasa Indonesia baku. Ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ia kaget mendengarnya. Lagi-lagi polosnya saya manfaatkan. “Bila kamu mahasiswa UNJ sejati, kamu harus membangkang atas senior, dosen, ketua jurusan, dekan, pembantu rektor, rektor.” Saya tertawa banyak setelahnya. Ia cuma bilang saya gila.

Sabtu, 10 Maret 2012

Banksy dan Kesakralan Seni

Daniel, Warga Hackney, London mencak-mencak lantaran daerah rumahnya kini mulai dipenuhi mural. Ia marah bukan lantaran Hackney justru jadi kumuh, tak rapih, melainkan karena dari mural tersebut mulai banyak pendatang yang ingin tinggal di Hackney demi menikmati mural tersebut. Daniel tahu siapa yang membuat grafiti tersebut ialah Banksy, seniman jalanan yang menggunakan teknik stensil dalam melancarkan aksinya membuat mural.
Daniel yang lahir dan besar di Hackney bersama saudara lelakinya, resah karena ulah Banksy justru membuat harga sewa rumah di Hackney makin tinggi dan karena harganya yang melambung tinggi, ia jadi tidak mampu membeli satu buah rumah di daerah ia lahir dan hidup ini. Dan ia yakin Banksy jadi satu penyebab utamanya.
Makanya, ia ingin Banksy menyudahi aksinya. Ia mengirim surat elektronik ke website Banksy: banksy.co.uk. ia tak mencoba langsung menemui Banksy karena itu adalah hal yang sia-sia. Banksy seniman jalanan kawakan yang terkenal seantero Inggris, bahkan hingga luar Inggris lewat karyanya berupa mural, seni instalasi, dan beberapa kali melakukan aksi mengubah lukisan-lukisan sakral di museum.

Minggu, 05 Februari 2012

Hancock

John Hancock menyelematkan Ray Embrey pada insiden perlintasan kereta api
Nilai, Norma, aturan, dan hukum adalah perangkat guna memapankan kondisi masyarakat, tak terkecuali terhadap superhero.

John Hancock (Will Smith) adalah seorang gelandangan Los Angeles. Dengan pakaian lusuh, kotor, bahkan dekil, ia banyak menjalani hidup di kolong jembatan, emperan toko, dan tempat-tempat umum lainnya. Selain karena memang tak memiliki rumah, Hal tersebut dilakukan Hancock karena ia adalah seorang pemabuk akut. Setelah mabuk berat ia bisa tidur dimana saja.

Perilaku di luar batas norma-norma masyarakat tersebut yang membuatnya dibenci orang se-Los Angeles. Akan tetapi, bagaimana orang-orang Los Angeles bisa membenci Hancock? Sedangkan gelandangan di kota tersebut bukan Hancock seorang diri.

Hancock bisa dikenal oleh orang se-Los Angeles lantaran dia adalah seorang superhero. Laiknya Superman ia memiliki kekuatan super: bisa terbang, dan memiliki tenaga yang fantastis. Dan seperti superhero pada umumnya, ia juga turut membantu masyarakat dengan memerangi kejahatan. Walaupun, upaya memberantas kejahatan yang dilakukan Hancock tetap membuat Hancock dibenci.

Kenapa Hancock yang superhero dan banyak membantu masyarakat masih tetap dibenci? Selain karena sikapnya yang memang ugal-ugalan dan ditambah periklakunya yang suka mabuk-mabukan, Hancock dibenci karena kegiatan memberantas kajahatannnya dilakukan diluar norma-norma superhero atau paling tidak proyeksi masyarakat atas tindakan menyelamatkan bumi yang dilakukan superhero.

Jumat, 16 Desember 2011

Gingsul

 


Wanita Jepang dengan Yaeba
  
Kita butuh lebih dari sekadar teori! Kita butuh Chaos! Itu pasti!
 
Beberapa tahun terakhir kawat gigi atau bracket yang lazim disebut behel jadi satu ikon baru bagi muda-mudi di Indonesia-bahkan di dunia. Secara fungsional, bracket dipakai bagi orang yang memiliki kelainan rahang dan bertujuan memperbaiki wajahnya lewat menstabilkan struktur gigi yang berantakan. Namun, semangat modernitas justru bukan hanya menyuguhkan bracket secara fungsional, melainkan menawarkan nilai-nilai simbolik.

Makanya jangan heran, saat beberapa figur yang bisa diakses banyak orang mengenakannya, seketika berbondong-bondong orang turut meniru menggunakan bracket. Bracket murah meriah yang tidak ditangani oleh ahlinya juga jadi barang dagangan yang laris manis. Padahal, dahulu memakai bracket adalah hal yang aneh dan memalukan, sekarang malah jadi mode dan gaya hidup.

Namun, belakangan ini di Jepang-dimana bracket juga jadi sebuah mode-tren bracket nampaknya sudah pudar. Di Jepang orang bukan lagi memagari giginya dengan kawat, mereka justru menambal giginya agar menonjol, tidak rapih, orang Indonesia menyebutnya gingsul. Biasanya gingsul yang hadir secara alami  karena pertumbuhan gigi yang tidak mendapat cukup ruang di rahang.

Sabtu, 20 Agustus 2011

Alay dan Pertentangan Kelas

MENDENGAR telepon genggamnya berbunyi, Nia lantas mengeluarkan telepon genggam dari saku celananya. Satu pesan masuk.
“4pA K48h@r? Qt Jh@lAnd Yuk5,” Isi pesan pendek tersebut.
“Apa sih. Kirim sms(Short Massage Service) gak jelas, Alay banget deh,” kesal Nia.
Nia kembali memasukkan telepon genggamnya ke saku celana jins hitamnya yang ketat. Sebatang Marlboro Black Menthol ia keluarkan dari bungkusnya. Ia juga mengeluarkan korek dari saku kemeja kotak-kotak berwarna merah-hitam. Kancing kemejanya sengaja tak ia masukkan, hingga yang terlihat hanya sebuah kaus tipis berwarna hitam.
Pesan pendek seperti itu bukan yang pertama kali diterima Nia. Nia agak risi menerima pesan pendek seperti itu. Susah dibacanya, norak, kampungan, menurut Nia. Nia menyebut orang seperti itu sebagai Alay, atau akronim dari Anak Layangan. Tidak jelas maknanya apa, munculnya kapan, dan menunjukkan siapa. Namun, biasanya sebutan Alay ditujukan kepada seorang yang taraf ekonominya rendah. Yang terepresentasikan dengan gaya hidup ‘seadanya’ dan ‘memaksa’. Dan, sebutan ALay banyak disematkan oleh seorang yang memiliki taraf ekonomi yang tinggi, seperti Nia.

Novel Satir terhadap Komunisme Soviet

MALAM itu Mayor tua dengan gagah berdiri di podium pojok peternakan, ia berdiri dibawah lentera dan diatas kasur jerami. Mayor tua adalah seekor babi berumur duabelas tahun di peternakan Manor milik Tuan Jones. Ia merupakan babai yang bijaksana dan agung. Kala itu mayor telah mengumpulkan seluruh binatang di peternakan Manor untuk mendengarkan mimpinya akan pembebasan para hewan. Anjing, babi, kuda, sapi, domba, burung, ayam yang hadir dengan hikmat mendengarkan cerita Mayor.
Pembebasan yang diimpikan Mayor merupakan sebuah upaya terhadap penindasan yang dilakukan Tuan Jones. Tuan Jones melakukan eksploitasi terhadap para hewan ternaknya untuk kepentingan pribadinya. Semisal, tiap tahun Tuan Jones bisa mendapatkan ribuan galon susu sapi, ratusan telur ayam, berkilo-kilo bulu domba, dari hasil ternakannya. Dari keuntungan yang didapat Tuan Jones tak pernah secara langsung dirasakan para hewan sendiri. Mereka hanya diberi kandang dan jatah makan seadanya-sebatas utuk bisa hidup dan berproduksi. Bahkan tak jarang Tuan Jones lupa memberikan kepada ternakannya, sehingga para hewan pun harus kelaparan.

Meradikalkan Sistem atau Mensistemkan Keradikalan

Sejak kemunculannya, politik budaya tanding tidak pernah menghasilkan sebuah perubahan. Ironisnya, budaya tanding justru penopang utama bagi berdirinya kapitalisme.


Apa yang harus dilakukan kura-kura untuk bertahan hidup? Menjadi kura-kura. Apa yang harus dilakukan keledai untuk bertahan hidup? Menjadi keledai. Apa yang  harus dilakukan wortel untuk bertahan hidup? Menjadi wortel. Apa yang harus dilakukan manusia untuk bertahan hidup? Menjadi guru, pengacara, tentara, tukang tambal ban, pelayan restoran, Dan yang lain. Bagaimana mungkin, manusia sebagai makhluk tertinggi justru memerankan peran paling bodoh dalam kehidupan.
Untuk mengembalikan peran manusia sebagai makhluk yang bebas, merdeka, lepas dari kerangka dominasi massa, ya mereka melawan. Bagaimana? Awalnya sebuah penemuan atas dunia baru-khususnya kepualauan pasifik-oleh bangsa eropa. Mereka melihat sebuah sebuah tatanan yang egaliter, yang tiap manusia memiliki persamaan hak. Dipengaruhi kondisi eropa saat itu yang sedang mengalami revolusi industri, masyarakat eropa mendamba sebuah involusi kehidupan. Yaitu adalah kembalinya sebuah kehidupan dalam bentuk yang lebih sederhana, seperti yang mereka tahu di dunia baru.