Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa Jurnalistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa Jurnalistik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 April 2012

Harapan Hasibuan digantung di UNJ

Belakangan hari Hasibuan makin mantap menjadikan UNJ sebagai poros hidupnya. Kemantapan hati Hasibuan ada karena sebentar lagi putri sulungnya akan lulus Sekolah Menengah Kejuruan. Walau belum ada pengumuman lulus atau tidak putrinya, ia telah memilih UNJ sebagai perguruan tinggi tempat menuntut ilmu anaknya selanjutnya.

Memilih UNJ memang tidak sekonyong-konyong datang buat Hasibuan dan putrinya. Awalnya, si sulung ingin kuliah hukum di Universitas Kristen Indonesia (UKI). Fakultas Hukum UKI yang banyak diisi mahasiswa dari daerah yang sama jadi alasan utama, walaupun putrinya sekolah pada jurusan Akuntansi di SMK.

“Biar dari satu daerah, tapi universitas itu kan juga bisnis. Dalam bisnis tidak ada kata saudara,” kata Hasibuan. “saya cuma pedagang kecil, mengkuliahkan anak di universitas swasta jelas saya tidak sanggup.”

Pendapatannya dari membuka warung rokok dan kopi di pintu belakang UNJ dirasa Hasibuan tidak akan mencukupi biaya kuliah anaknya hingga selesai kuliah, makanya pilihan jatuh ke UNJ. Hasibuan yang sejak tahun 2001 berdagang di UNJ tahu biaya kuliah di UNJ tak terlalu membuat dompetnya kering kerontang.

Demi menempuh bangku kuliah, si putri melunak, ia mau kuliah di UNJ. Awalnya anak pertama dari empat anak Hasibuan ini mau masuk jurusan Seni Tari, namun Hasibuan tak mau begitu saja menerimanya. “mau jadi apa nanti? jadi penari kan harus pintar juga menyanyi. Lagipula pekerjaan macam itu harus menunggu pesanan,” Protes Hasibuan kepada anaknya.

Akhirnya Hasibuan dan anaknya sepakat Jurusan Akuntansi akan dipilih nanti. Selain si anak yang memang sudah belajar akuntansi sejak duduk di bangku sekolah menengah, Hasibuan berpikir panjang ke depan, “banyak perusahaan yang membutuhkan jasa Akuntan,” ujarnya. “Walau saingannya banyak, tapi saya percaya mukjizat Tuhan.”

Kini selain berdagang, Hasibuan punya kegiatan lain, yakni mencari informasi atas UNJ, khususnya tentang jalur masuk. Tapi Hasibuan alpa mencari informasi tentang biaya kuliah. Karena semenjak angkatan kuliah 2011 UNJ mengalami kenaikan biaya kuliah mencapai seratus persen.

Hasibuan tidak tahu bahwa gedung-gedung baru di UNJ yang persis terletak di belakang kiosnya membuat UNJ tega menaikkan biaya kuliah yang mungkin akan memotong harapan anaknya berkuliah. Yang Hasibuan tahu, gedung-gedung yang sedang dibangun itu turut membuat penghasilannya kembang kempis, “Di dalam proyek sudah ada kantin, penghasilan saya jadi berkurang,” keluh Hasibuan.

Minggu, 11 Maret 2012

Stasiun Gambir Buta Warna

St. Gambir bersolek, angkutan umum di dibatasi, hanya beberapa saja yang yang diperolehkan beroperasi.

FEBRUARI, MUNGKIN jadi bulan yang sial bagi Suparman, 52 tahun. Suparman seorang supir taksi yang biasa mangkal di St. Gambir. 17 Februari lalu, seperti biasa, ia datang ke St. Gambir untuk mencari penumpang. Di pintu masuk St. Gambir, Suparman melihat pengumuman “Selain taksi yang telah ditunjuk, dilarang dan/atau tidak diizinkan untuk parkir dan/atau mengangkut penumpang dari Stasiun Gambir.” Lantas ia menanyakan pengumuman tersebut ke petugas. Ia mendapat jawaban, bahwa mulai hari itu taksi selain yang sudah ditunjuk dilarang mangkal. ia kesal dan kemudian pergi.

Suparman pergi lantaran perusahaan taksinya bukan termasuk taksi yang ditunjuk seperti dalam pengumuman. Taksi yang dimaksudkan adalah, Blue Bird, Putra, dan Taxiku. Sedangkan taksi yang digunakan Suparman berasal dari perusahaan Pe Taksi. pelarangan taksi selain tiga perusahaan taksi diatas didasari upaya untuk membenahi St. Gambir, salah satunya dengan melakukan pembatasan armada taksi.

Karena pihak kereta api melihat banyak taksi yang sudah tidak layak namun masih beroperasi di St. Gambir. “Selain itu banyak keluhan dari penumpang tentang taksi yang argonya kuda, suka menurunkan penumpang tidak pada tempat tujuan,” ucap Sugeng Priyono, Kepala Humas Daerah Operasi (DAOP) 1

Upaya pembenahan tersebut dilakukan dalam rangka menjadikan St. Gambir bertaraf internasional. Dikutip dari detik.com, Mulianta Sinullingga, kepala DAOP 1, yang daerah operasinya meliputi Jabodetabek, mengatakan upaya itu meliputi hospitality, security, penataan Layout Tenant, How pun In and Out, Garrets Gate, penataan taman, toilet bersih dan gratis, penataan parkir, estetika St. Gambir, St Gambir yang bersih dan bersahabat, bebas dari gembel, pengemis, pengamen, dan integrasi Shelter Bus Way dengan stasiun.

Bola Salju Konflik Stasiun Gambir

Kevin Resmon
Tak hanya secara vertikal, Konflik di St. Gambir juga timbul secara horizontal.

KANKER PARU-PARU yang diderita Kevin Resmol, 29 tahun, makin parah, dadanya sering merasa sesak, ia tidak bisa dekat-dekat dengan asap rokok, pun ia harus banyak mengkonsumsi air putih guna menetralisisir tubuhnya dari debu dan kotoran yang dihirupnya.

Senin malam, 22 Maret, Kevin merasa tubuhnya tak mempunyai tenaga, lemas. Ia memutuskan untuk tidur lebih awal dari biasanya. Kevin tidur di pelataran depan lobby Stasiun Gambir. Pukul setengah dua belas malam, tak lama berselang tiga buah mobil kijang masuk St. Gambir. Tiga orang polisi dari Polisi Sektor (Polsek) Gambir keluar dari salah satu mobil tersebut dan menghampiri Kevin, setelah menanyakan nama Kevin mereka membawa Kevin ke kantor Polsek Gambir. Kondisi Kevin yang sedang sakit membuatnya tak banyak melakukan perlawanan.

Sesampainya di Polsek Gambir Kevin masih tak mengetahui mengapa dirinya dibawa. Tiba-tiba seorang polisi menyodorkan beberapa foto kepada Kevin

“Ini kamu kan?” Tanya salah satu polisi kepada Kevin.

“Iya, tapi bukan semua foto aku,” jawab Kevin.

Di beberapa foto tersebut, Kevin terlihat sedang memenggam batu dengan latar belakang kerusuhan. Beberapa ada yang menampakkan Kevin dari belakang. Kevin baru mengetahui perihal ia dibawa polisi setelah melihat foto-foto tersebut. Ia diduga menjadi pelaku perusakan taksi Blue Bird di depan sekretariat LSM Benteng Keadilan Rakyat (Bendera), di jalan Diponegoro 58, menteng, Jakarta Pusat.

Selasa, 03 Januari 2012

Cuma Jual atau Sewa


Hermansyah, sudah pagi-pagi benar tiba di kampus. Pukul 7 pagi, ia bersama empat temannya sudah berkumpul di Economart, tempat praktek mata kuliah kewirausahaan FE UNJ. Economart sendiri layaknya toko swalayan, bedanya semua kegiatan perdagangan dilakukan mahasiswa dan berada di dalam kampus.

Kali ini, Herman bertugas menjajakan barang dagangan keliling kampus. Jelang pukul 8, ia bersiap-siap, aneka minuman kemasan dan makanan ringan disusun dalam sebuah keranjang. Agar dikenali sebagai mahasiswa praktek, Herman Cs wajib mengenakan seragam khas Economart, rompi krem yang berkantung banyak.

Mahasiswa Jurusan Ekonomi Koperasi  angkatan 2010 ini memiliki waktu seharian menjajakan dagangan. “Pokoknya asal ada keramaian, ya ditawarkan,” ujar herman.

Seluruh mahasiswa FE UNJ wajib melakukan praktek kewirausahaan seperti Herman. Mata kuliah kewirausahaan sendiri bersifat wajib bagi beberapa program studi di FE UNJ. Selain Economart, FE UNJ juga menyediakan lahan praktek wirausaha lainnya, yakni Artha Aksara.

Universitas Wirausaha Buat Susah Mahasiswa



Giatnya universitas melakukan usaha mandiri malah membawa bencana. Batas antara keadilan dan kemanusiaan dengan mengejar keuntungan kian hilang.

Awalnya, adalah bedah buku Enterpreneurial Pathways of University Transformation pada Februari 2003.  Bedah buku ini merupakan langkah awal UNJ menuju Enterpreneurial University. Maksud bedah buku ialah pengenalan kepada civitas akademik dengan orientasi pedidikan wirausaha di perguruan tinggi.

Kusmayanto Kadiman, saat itu Rektor ITB, didaulat sebagai pembicara utama.  ITB sendiri diyakini merupakan teladan, banyak civitas akademik belajar berwirausaha ria dari bekas sekolah Ir. Soekarno ini.

Dalam bedah buku tersebut, banyak diperkenalkan kampus ternama dunia seperti, Warwick University Inggris, Twente University Belanda, Chalmers University of Technology Swedia, Joensuu University Finlandia, dan Strathclyde University Skotlandia. Kampus-kampus ini tersohor akan kesuksesannya mengembangkan wirausaha di universitas.

Sabtu, 20 Agustus 2011

Barikade Pedagang Rokok


LANGKAH kaki Muhhamad Kholik Wahyu melambat saat keluar dari Fakultas Ilmu sosial (FIS), Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Dua kancing atas kemeja kotak-kotaknya terbuka, tangan kanannya sembari mengibas-ngibas lehernya. Pemuda berumur 22 tahun ini biasa disapa Tito. Tito merupakan mahasiswa Jurusan Pendidikan Sosiologi tingkat dua. Ia baru saja selesai mengikuti ujian tengah semester pada mata kuliah Sosiologi Kebudayaan.
“Lu bisa gak tadi?” Tanya Tito kepada salah seorang temannya.
“Gue aja tadi nyontek semua,” tawa temannya.
Tito dan temannya tak langsung meninggalkan kampus, mereka menuju pendopo FIS. Tito memang biasa nongkrong di pendopo FIS seusai kuliah bersama teman-temannya untuk sekedar ngopi dan ngerokok.
"Beli rokok empat batang, sama kopi item," ucap teman Tito sembari menyerahkan selembar uang lima ribu.