Genre Fiksi dijadikan alternatif dalam dunia kesustraan untuk bersembunyi dari pengawasan Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda.
Hasbullah Parindurie alias Matu Mona terlecut semangatnya saat diperlihatkan sekitar empat atau lima pucuk surat oleh Adinegoro, pemimpin redaksi Harian Pewarta Deli-harian di Medan yang terbit pada 1930-an. Matu Mona menemukan gagasan kemerdekaan Indonesia dalam surat yang dibacanya. Bagaimana tak terlecut semangatnya, pada periode itu Indonesia masih dalam cengkraman Kolonial Belanda. Matu Mona yang juga seorang redaktur Pewarta Deli merangkap sastrawan memutuskan menulis sebuh cerita dari surat yang dibasanya yang kemudian diketahui dikirim oleh Tan Malaka, seorang tokoh pergerakan di Indonesia. Awalnya, cerita Matu Mona terbit sebagai cerita bersambung di Pewarta Deli pada 9 Juli- 19 september 1933 dengan judul Spionnage Dienst (Pacar Merah Indonesia). Karena mendapatkan sambutan baik dari pembacanya, cerita tersebut kemudian dibukukan pada 1938.
Apa yang sebenarnya Matu Mona tulis?, hingga ceritanya bisa mendapat antusiasme pembaca yang tinggi. Dalam jilid satu ini-buku ini terdiri dari tiga jilid, Matu Mona menceritakan bagaimana petualangan Tan Malaka sebagai Pacar Merah, buronan polisi rahasia kolonial Hindia-Belanda.



