Minggu, 06 Maret 2016

Loteng Daya

Acara berkabung sudah selesai, Daya anak satu-satunya yang telah resmi yatim piatu melipat karpet-karpet yang dipergunakan untuk kembali ditaruh di loteng. Hari in merupakan 40 hari ia menjalani hidup seorang diri. Bapaknya, satu-satunya orang yang menyayangi sekaligus paling dibenci untuk sisa hidupnya harus pergi.
Ada sesak yang tak terkendali saat Daya memutar pandang di loteng. Loteng itu sempat jadi sarana buat seorang bapak menjadikan anak perempuannya sebagai kekasih keduanya, guna melakukan hal-hal yang tak kuasa ia lakukan dengan istrinya. Meski di tempat itu pula, Daya harus bersumpah untuk membenci bapaknya selama sisa hidup.
Tiga gulung karpet berketinggian 3 meter ia letakan di sudut ruangan, loteng ini tak besar dengan bagian atap yang miring karena satu sudut atap harus langsung bertemu dengan sudut lantai, tanpa ada sudut atap lainnya. Di loteng seluruh perabot rumah yang tak berfaedah secara temporer dan enggan dibuang disimpan.
Daya tak pernah ingat pada umur berapa loteng itu hadir. Tapi ia tahu apa alasannya. Bapak Daya tak pernah suka ada hal terjadi tak sesuai keinginannya, begitu juga dalam menata rumah. Ia tak suka misalnya melihat ada keranjang bayi yang disimpan di ruang keluarga karena Daya yang sudah bisa tidur di kasur, dan telah memiliki kamar mandiri. Mulanya keranjang itu disimpan di kamar Daya, tapi bocah perempuan yang mulai bisa berjalan itu selalu mendorong keranjang tersebut keluar kamar sebelum ia tidur. Daya seperti ingin menyebutkan jika ia telah besar dan ia tak ingin ada simbol kekanak-kanakan di sekitarnya, atau setidaknya di kamar miliknya, yang ia anggap adalah kuasanya.
Oleh karenanya bapak Daya memutuskan untuk membuat loteng.

Selasa, 24 Maret 2015

Merevitalisasi LPTK


Oleh: Anggar Septiadi dan Kurnia Yunita Rahayu*

PENGANTAR
Bisa jadi tulisan ini telat muncul di tengah arus utama berita Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla yang sedang didesak menuntaskan beragam kisruh politik serta aplikasi kebijakan ekonominya. Meski demikian, hal-hal tersebut juga yang mendorong tulisan ini dibuat.
Ada beberapa kenyataan sekaligus pertanyaan yang melandasi tulisan ini. Khususnya  soal mengapa porsi diskursus guru dalam mengurai persoalan pendidikan selalu menjadi pertimbangan kesekian setelah problem kurikulum, dana pendidikan, partisipasi pendidikan, hingga persoalan konfigurasi mata pelajaran apa yang seharusnya diberlakukan untuk menjadikan seorang menjadi seorang Indonesia. Padahal semua hal tersebut (seharusnya) dirangkai oleh seorang guru.
Sekalipun ada, ihwal guru akan selalu berkutat pada masalah eksternalisasinya yakni kesejahteraan, kualitas, hingga moral guru. Terlebih belakangan juga Menteri Anies Baswedan kerap bicara soal peningkatan kualitas guru tapi sama sekali tak menyentuh bagaimana operasi sirkuit produksinya: Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).
Oleh karena itu, penulis beranggapan bahwa ada urgensi untuk membahas bagaimana posisi LPTK kekinian sebagai rahim lahirnya guru. Sehingga pada tahap berikutnya kita bisa sedikit memprediksikan bagaimana program pendidikan Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla mampu untuk dilaksanakan dengan meneropong konfigurasi guru yang seperti apa yang coba diciptakan oleh Pemerintahan Jokowi-JK.
Tulisan ini sendiri akan dibagi ke beberapa bagian, pertama menyoal bagaimana sejarah singkat lembaga pendidikan guru Indonesia. Bagian kedua akan memperlihatkan bagaimana konstruksi guru yang diposisikan sebagai buruh. Sedangkan bagian ketiga akan mengontekstualisasikan dua soal tersebut dengan kebutuhan sekarang.

Senin, 23 Februari 2015

Shawshank yang Esa

Review The Shawshank Redemption (1994)



Ellis Boyd Redding putus semangat. Ini ketiga kalinya ia sedang dinilai kelayakannya untuk mendapatkan pembebasan bersyarat. Oleh panelis ia ditanya apakah ia sudah terehabilitasi? Sudah siap menjalani hidup di dalam masyarakat kembali? Alih-alih mengiyakan si panelis, Red-sapaan akrab Ellis- berkata panjang lebar sembari mengejek si panelis hingga berujar: rehabilitasi, buatku rehabilitasi hanya omong kosong!
Padahal, di kedua kesempatan sebelumnya pada tahun-tahun sebelumnya, Red sangat antusias menjawab panelis. Ia katakan pada dua kesempatan tersebut bahwa ia sudah sepenuhnya terehabilitasi dan tak lagi jadi ancaman bagi masyarakat. Sayangnya, antusiasme di dua kesempatan sebelumnya tak membuat Red keluar penjara. Kesempatan ketigalah yang buat dia berhasil bebas dari Penjara Shawshank.

Rabu, 11 Februari 2015

Mitos Think Out of The Box



Sapardi salah, yang benar: Sebermula adalah Matematika
Orang-orang yang suka mengafirkan orang lain mungkin akan dengan tekun mengenal Stephen Hawking untuk kemudian membuatnya hina dina dengan segala kecacatannya. Dari Stephen: tak ada apapun yang melampaui realitas, dan Tuhan hanya proyeksi orang yang dikebiri. Sedang kecacatannya oleh para pemberi cap kafir merupakan terang benderangnya murka Tuhan.
Padahal tesisnya mengenai waktu punya faedah lebih banyak ketimbang kenyinyiran mengafirkan orang lain. (Dan sekali lagi Sapardi salah: Yang fana adalah waktu, kita abadi. Ahhh, Sapardi hanya tak bisa mencintai fisika dengan sederhana). Tapi santai saja, soal Stephen dan siapa yang paling berhak mengafirkan orang lain tak akan dibahas disini.
Begini begini, saya yakin demi apel yang menimpa Newton kalau tiap orang pasti punya kerabat, atau sekadar orang yang baru dikenal yang sok tau. Misalnya saya pernah kenal seorang mahasiswa yang baru baca pamflet diskusi golongan radikal di kampus terus ngajak demo menuntut tumbangnya kapitalisme, dan solusinya cuma Halimah! Atau yang tipe-tipe begitu lah. Jujur yang begini-begini buat saya eneg
“Kamu sebagai mahasiswa harus memikirkan bangsa, negara. Bangsa kita ini sedang sekarat, dimana-mana ada mafia bahkan hingga di kampus. Ada korek mas”
“Hadeuh, bayar kuliah saja saya harus melalui leasing, yang begitu begitu nanti dulu deh ya,”
“Wah, ndak bisa begitu  kita kuliah di PTN maka kita juga harus bertannggung jawab dengan masyarakat bla bla bla bla bla.?”
“haaah?” (Sialan nih orang baru gua pinjemin korek udah nyeramahin gua)
“sebentar lagi biaya kuliah juga akan naik dan itu akibat dari kapitalisme bla bla bla bla” (sambil minta rokok)
“ya kalau naiknya untuk peningkatan fasilitas ya tidak apa-apa toh?” (bajingan, minjem korek cuma siasat untuk mendapatkan rokok)
“Loooooh tidak bisa begitu, bayaran kuliah naik itu karena kapitalisme bla bla bla bla bla. Ini lebih asik kalau kita sambil ngopi, mas,”
“.........” (@$#$%@&)
“Intinya kamu mas tidak boleh lihat sesuatu di dalam saja. kamu harus keluar dari tempat tinggalmu, kamu harus think out of the box,”
“Jancuuuuuuk! Think out of the box, think out of the box matamu! Aku tinggal di rumah nanas!”

Rabu, 24 Desember 2014

Komodifikasi Agama: Hutang Besar Agama terhadap Kapitalisme

Mengapa agama masih bertahan di tengah modernitas? 

Ada problem yang cukup kompleks ketika membahas agama dengan karakter irrasionalnya di tengah-tengah masyarakat yang menjunjung tinggi akal sehat. Untuk menjelaskannya ada tiga ihwal yang akan dibahas: konstruksi agama, modernitas, kebertahanan agama.

Pembahasan akan kita mulai dengan konstruksi agama dalam perspektif Berger. Dalam The Sacred Canopy (1967) secara sederhana agama didefinisikan Berger sebagai hasil dari dialektika masyarakat yang punya faedah sebagai ikhtiar menuju tatanan masyarakat yang lebih baik dan makin sempurna 

Agama dijadikan perpanjangtanganan atas eksplanasi-eksplanasi untuk apa-apa yang terjadi di luar dunia manusia, dan oleh karenanya di luar masyarakat. Hal ini terjadi karena manusia punya keterbatasan tertentu untuk berinteraksi dengan dunia. 

Sebab manusia tak sama dengan hewan maupun tumbuhan yang memiliki konfigurasi langsung dengan alam, manusia harus membentuk dirinya sedemikian mungkin agar cocok dengan konfigurasi alam. 

Dengan keterbatasan yang dimiliki itulah muncul konsepsi mengenai sebuah kekuatan yang Maha Dahsyat, yang dipercaya menjalankan semua operasi dunia. Sedangkan agama jadi jembatan untuk memahami yang Maha Dahsyat tadi.

Dari penjelasan di atas, satu kesimpulan singkat mampu diraih bahwa manusia jelas membutuhkan penjelasan-penjelasan mengenai apa-apa yang terjadi di luarnya. Penjelasan Berger tersebut mampu dipahami dalam konteks masyarakat tradisional dimana sarana IPTEK nya belum mampu mengakomodasi hal tersebut. 

Sabtu, 22 November 2014

Jembatan Itu Bernama Agama




REVIEW THE SACRED CANOPY: BAGIAN RELIGION AND WORLD-CONSTRUCTION 
Bila pernah ada pertanyaan mana yang terlebih dahulu hadir? Manusia atau dunia? seluruh manusia yang pernah maupun masih berada di dunia sepakat bahwa dunia secara fisik terlebih dahulu muncul dibanding manusia. Fisika telah menawarkan varian jawaban atas pertanyaan tersebut.
Namun, apakah dunia tanpa manusia masih bisa disebut sebagai dunia? serta apa arti dunia bila manusia absen? Dunia memiliki faedah setelah manusia ada. Dan oleh karenanya, sesungguhnya dunia baik secara fisik maupun metafisik merupakan konstruksi dari manusia yang berkonsesus alias masyarakat.

Meski cuma satu, dunia bisa jadi dipandang bervariasi oleh satu masyarakat dengan yang lainnya. setiap masyarakat berupaya dalam proses pembangunan dunia. namun bagaimana secara sistematis dunia dibangun oelh masyarakat yang merupakan konsesus manusia? Melalui The Sacred Canopy, Peter L Berger punya jawabannya.
Untuk memahami jawaban Berger, awalnya kita harus sepakat dengan Berger yang mengandaikan masyarakat sebagai produk dari manusia yang telah melalui serangkain proses dialektis. Artinya, masyarakat bukan hanya diciptakan oleh manusia, melainkan turut pula menciptakan manusia. Tidak pernah ada manusia yang tercerai dari realitas sosialnya, sehingga manusia mampu pula dipahami melalui realitas sosial yang melingkupinya dan oleh karenananya masyarakat dimana ia ada.

Sabtu, 27 Juli 2013

Rama dan Said

Untukmu, Sahabat.

TANPA BANYAK PIKIR, Rama langsung masuk kamar mandi setibanya di rumah. Ia mau berendam. Hari ini matahari sangat sombong, apalagi hanya untuk menghadapi bocah 8 tahun seperti Rama, ia hanya butuh mengedip. Akibat kesombongan matahari Rama tidak peduli apapun lagi, yang ia mau hanya berendam. Seragam putih merah itu saja sengaja tak dilepaskan, buatnya melepas pakaian tak mampu mengurangi kegerahannya, isi kepala bocah itu hanya dipenuhi air, air, air, dan adzan dzuhur.

Byurrrr, rama mencemplungkan diri ke bak.

Ibu Rama kaget, ia tak menyadari kehadiran Rama dan langsung memeriksa kamar mandi. Ia berteriak kepada Rama dengan mengucap Istigfar. Ia memarahi Rama banyak, karena tak mengucap salam saat masuk, karena tidak mencium tangan ibunya saat tiba di rumah, karena belum melepaskan seragam bahkan kaos kakinya, karena ia berendam di bak. Rama tidak peduli, yang ia inginkan saat itu hanya mendapatkan kesegaran.

“aku mau minum! Aku haus!”

“kemarin yang mau puasa kaya Said siapa? Kamu kan, lagian satu jam lagi juga dzuhur, nanggung dong,”

“tapi aku haus, bu. Minum aja deh gak usah maka. Said kan udah gede aku masih kecil”

“husshh, gak boleh,”

“tapi, aku gak kuat, bu,”

“yaudah kamu disitu aja dulu, nanti kalo udah adzan baru boleh minum. Tapi, bajunya dilepas dulu.”

Hari ini hari pertama anak kelas 2 Sekolah Dasar itu puasa, sedangkan satu jam menuju adzan dzuhur ia habiskan berendam di bak mandi.

Senin, 01 April 2013

Menunggu Mesias


Tanggapan atas Tulisan Ahmad Tarmiji Alkhudri; Menjadi Guru Tranformatif: Memformulasikan Pendidikan Karakter Melalui Pembelajaran Inovatif dan Humanis.

Pendahuluan

Selain wacana perubahan kurikulum 2013, belakangan perbincangan profesi guru sering jadi buah bibir masyarakat. Hal ini karena sejak pertengahan 2012, ada tujuh mahasiswa yang menginginkan revisi dari Undang-undang Guru dan Dosen no. 14 tahun 2005. Mereka memersoalkan adanya lulusan non-LPTK yang disesejarkan dengan lulusan LPTK untuk memeroleh restu mengajar melalui PPG dari UUGD tersebut. Makanya tujuh mahasiswa itu kelimpungan dan berniat mengajukan gugatan judicial review atas UUGD untuk hal pasal tersebut. Usaha yang dimulai pada pertengahan 2012 ini akhirnya mentok pada kamis (28/3) ketika MK menolak gugatan ketujuh mahasiswa tersebut.[i]

Ada sesuatu yang menarik dari cerita di atas. Yakni konfrontasi antara kemampuan pedagogik seorang guru dan kemampuan keilmuan-misalnya guru fisika harus memiliki kemampuan yang setara dengan fisikawan-yang juga selalu jadi problem semenjak konversi IKIP menjadi sebuah universitas. Problem ini yang saya pikir juga dicoba dijawab Alkhudri dalam Menjadi Guru Tranformatif: Memformulasikan Pendidikan Karakter Melalui Pembelajaran Inovatif dan Humanis.

Alkhudri mengandaikan ada satu lagi peran guru selain dalam fungsi mendidik (pedagogik) dan pengembangan keilmuan, yakni guru memegang peran penting dalam usaha transformasi sosial. Artinya setalah dua peran tersebut ditunaikan guru, ia berfungsi merangsang peserta didik agar mampu memiliki kecakapan sosial yang mampu menjawab zaman.

Selasa, 12 Februari 2013

Rasa Muak


Tiba-tiba saja, ada yang mengetuk pintu kos. Padahal saat ini sudah jam dua dini hari. Ini jarang kudapati, karena kos miliku selain si Ruki sahabatku tidak pernah ada yang datang kemari. Kulihat dari jendela, ada sosok ber-jas merah dengan dasi garis-garis berwarna biru dongker dan ungu. Sepatunya sangat mengkilap hingga aku yakin mampu bercermin di sepatunya, celananya katun hitam halus tanpa ada satu lekukan lecek. Baru kusadari ia adalah Rudolf teman kelasku.

Aku heran bukan main dari mana ia tahu kosku? Ada urusan apa ia menemuiku? Aku tahu aku satu kelompok dalam presentasi mata kuliah teknik penyulingan besok pagi, tapi aku juga tahu persis selama tiga tahun kami kuliah, ia dan aku tidak pernah satu kali pun mengundang obrolan bersama.

Setelah mempersilakan ia masuk, ia mengutarakan niatnya: ia mau pinjam buku penyulingan air, sembari katakanlah sebuah kegiatan belajar bersama. Di kelas memang cuma aku yang memiliki buku ini, dan bukunya memang sangat berguna. Beberapa kali aku bisa mengetahui apa yang akan dibicarakan dosen sebelum ia memaparkan penjelasan. Bahkan, aku tak jarang membantah dosen berkat buku yang kubaca ini. Buku itu sendiri kudapat dari kakekku, seorang professor terkenal dalam bidang fisika kinetik. Buku ini memang untuk kalangan terbatas, tapi mengetahui minatku yang tinggi terhadap fisika, kakek memberikannya kepadaku.

Tapi aku masih tak habis pikir mengapa si Rudolf mau kemari, menemuiku. Sebelum aku berspekulasi macam-macam kuberi saja Rudolf buku itu. Hematku, paling tidak aku sudah mendistribusikan ilmu. Barangkali nanti kalo si Rudolf sukses, aku akan memiliki  kontribusi akan kesuksesannya.

Aku beri buku tersebut, Rudolf juga tak serta merta pergi dari kosku. Ia membacanya sedikit demi sedikit. Beberapa yang tidak ia mengerti ditanyakan kepadaku. Misalnya mengenai purifikasi kinetik ia benar tidak mengerti, buatnya dengan kemampuan otak yang cekak lebih baik menyediakan saringan dengan lubang kerapatan yang kecil untuk mendapatkan air yang lebih bersih. Kuberi penjelasan: penyaringan memang lumayan berguna untuk benda-benda padat, namun teknik ini kurang berpengaruh untuk memisahkan air dari zat cair ataupun gas yang berbahaya bagi tubuh. Kujelaskan lagi: salah satu cara sederhana adalah dengan mengocok air dengan konstan, malah lebih baik bila sirkulasinya berbentuk lingkaran, walaupun tetap dibutuhkan material khusus dan lebih kompleks untuk hasil yang maksimal. Mendengar banyak penjelasan ia yang juga sadar punya otak tak mumpuni mencatatnya. Kupikir, serius sekali Rudolf ini. Selesai mencatat ia pulang, dan berterima kasih.

“sekarang gua mengerti, paling tidak ini cukup untuk bekal besok. Terima kasih banget, bro, kalo bukan lu, gua pasti bakal megap-megap besok.”

“hahahaha, bisa aja lu.”

Ia pergi, kubukakan pintu. Ada yang aneh, setelah jarak 10 meter membelakangiku, tiba-tiba saja kulihat ia hanya bersarung, dan mengenakan singlet. Mungkin aku terlalu ngantuk.

Keesokan harinya, tibalah giliran kelompokku bersama Rudolf berpresentasi. Kali ini si Rudolf yang banyak mengambil tempat, baik dalam penyajian makalah maupun menjawab pertanyaan-pertanyaan. Walau aku sempat melihat, ia jelas membaca catatan yang kemarin ia buat di kamar kosku. Biarlah, buatku mungkin ini permulaan bagi si Rudolf. Setelah presentasi selesai, semua bertepuk tangan. Si dosen malah bilang untuk menambahkan tepuk tangan bagi Rudolf yang gilang gemilang dalam presentasi tersebut.

“hebat kamu Rudolf, dari mana kamu mengetahui itu semua?”

“ah, biasa aja pak, saya cuma baca buku ini.” Rudolf menunjukkan buku milikku. “ini buku sulit sekali saya dapat, pak. Ini buku untuk terbatas untuk kalangan peneliti saja, saya mendapatkannya dari seorang professor fisika kinetik terkenal. Awalnya saya cuma meminjam, namun professor itu melihat ketertarikan saya yang besar terhadap fisika, kemudian ia memberinya kepada saya.”

Bajingan ini Rudolf, tidak kusangka pertemuan semalam ternyata diniati busuk olehnya. Aku tidak mempersoalkan pengakuannya terhadap buku itu. Aku hanya merasa bangunan pengetahuanku dirusak olehnya, ini sebuah pencurian hak cipta terhadap pengetahuan, dalam presentasi barusan, ia bahkan menggunakan kalimatku dalam menjawab pertanyaan yang kemarin ia lontarkan kepadaku. Terlebih dia menggunakannya untuk memperoleh kesempatan-kesempatan politis yang menguntungkan dirinya.

Mendengar apa yang diucapkan Rudolf saya langsung pukul dia, “Bicara apa lu, ini buku gua, bangsat!” Aku yang menjadi sangat reaksioner, kemudian dapat hardikan oleh dosen yang kemudian memarahiku. Aku jelaskan mengenai kejadian semalam, namun aku yang terlanjur mempresentasikan kebrutalan di depan dosen tak sekalipun digubris. Si dosen malah mencaciku.

“Sudah, pak tidak apa-apa. Mungkin karena terlalu lama saya meminjami buku ini kepadanya, jadi ia menganggap ini buku miliknya.”

“oh, jadi kamu sempat meminjami buku ini kepadanya?”

“iya, pak, selama ini ia aktif di kelas, karena belajar kepada saya. ia bisa bergumen panjang lebar juga karena penjelasan saya yang ia catat. Bahkan awalnya ia mengambil buku ini tanpa sepengetahuan saya, setalah saya tahu maka saya pinjami saja dengan saya nasihati, bila ilmu memang tidak bisa dikuasai sendiri.”

Rudolf bajingan! Kupukul lagi ia. Ia terjatuh

“Berhenti! Kamu setelah jam pelajaran ini selesai silakan menemui saya di ruangan saya!.” kata si dosen kepadaku.

Dasar hipokrit bajingan, tahu ceritanya seperti ini jangankan kupinjami buku ini, kupersilakan masuk, memegang tuas pintuku saja akan kuhajar kau semalam. Rudolf kemudian bangun, sembari mengeraskan suaranya ia menyodor buku itu kepadaku, “bila ingin pinjam bilang saja, jangan mengaku-ngaku seperti itu.” Kemudian suaranya ia pelankan: baik dan buruk cuma interpretasi, hati-hatilah!

Anjing!

Senin, 14 Januari 2013

Einsten, Bir, dan Kritik



Untuk ibu-ibu yang tak kuat digoda kritik: Merumuskan hal-hal negatif dari suatu masa transisi jauh lebih bermakna ketimbang karir akademis-Max Horkheimer


‘Little Boy’ dan ‘Fat Man’ memang bukan sembarang tamu, mereka berdualah yang datang tak diundang pada 6 dan 9 Agustus 1945 di Hiroshima dan Nagasaki. Setelah mereka berdua tiba, hampir dua ratus ribu manusia lenyap seketika, yang bersisa pun harus menanggung cacat seumur hidup. Peristiwa ini adalah salah satu bencana terbesar kreasi manusia.

Enam tahun sebelum Hiroshima dan Nagasaki kejatuhan ‘si anak kecil’ dan ‘si gendut’, Albert Einsten si jenius abad dua puluh mengirimi surat kepada Presiden Amerika Franklin D. Roosevelt pada 2 Agustus 1939. Kurang lebih isi surat tersebut berisi: desakan kepada pemerintah AS untuk mengembangkan rumus mahsyur miliknya: E=M.C2 untuk menciptakan bom atom guna melumpuh pemerintah Nazi Jerman.

19 Oktober 1939, Presiden Roosevelt menandatangani proyek pengembangan bom dengan nama Manhattan Project sembari mengesahkan  Komite Pengembangan Senjata Atom dua hari setelahnya. Einsten sendiri kala itu sudah menetap di Amerika karena adanya pengusiran orang-orang Yahudi Jerman, ia salah seorang Yahudi yang terusir.

Entah apa yang ada di pikiran Einsten kala menyurati Roosevelt untuk bergegas mencipta bom atom. Yang ia tahu kala itu adalah Jerman lewat desas-desus telah memepersiapkan senjata super untuk memenangi Perang Dunia kedua. Einsten sendiri menyesal dan tidak mengira bahwa dampak dari bom atom tersebut sedemikian destruktif. ”Jika mengetahui akan menjadi sampai sedemikian akibatnya, lebih baik saya menjadi tukang reparasi arloji saja,” sesalnya.
Satu yang menarik adalah bahwa problem Einsten bisa dimaknai sebagai problem positivistik, secara vulgar bencana Hiroshima dan Nagasaki bisa ditelisik atas kecenderungan positivistik sebagai penyebabnya. Yakni, pemisahan antara pengetahuan dan kepentingan manusia. Buat orang-orang positivistik, pengetahuan adalah sebuah entitas mandiri yang tanpa campur tangan manusia ia bisa hidup dan bergerak. Sementara saat diturunkan kepada dunia manusia ia tidak akan merubah nilainya.

Ada salah satu lelucon menarik mengenai Einsten dari aktor dan sutradara Australia Greg Pead atau yang terkenal dengan nama beken Yahoo Serious. Dalam film besutannya Young Einsten(1988) ia memposisikan Einsten sebagai bocah eksentrik dari kepulauan Tasmania, Austalia. Einsten muda berasal dari keluarga petani Apel yang dituruni sebuah laboratorium rahasia untuk membuat bir yang memiliki gelembung.

Ceritanya si Eisnten muda mampu memecahkan teka-teki yang hingga lima generasi keluarga Einsten tak mampu membuat bir dengan gelembung. Ia menemukan bir versi gelembung dengan rumus yang baru saja ia ciptakan: energi sama dengan masa dikali kecepatan cahaya kuadrat. Setelah berhasil, ia berniat mematenkan rumus temuannya ke Sidney. Namun di tengah jalan rumus tersebut dicuri, dan oleh si pencuri rumus tersebut dijadikan dasar untuk membuat senjata nuklir yang dapat diperjualbelikan bagi negara yang doyan perang.

Rabu, 02 Januari 2013

Defragmentasi Kelas: Upaya Revitalisasi Konsep Kelas Karl Marx


Beberapa minggu yang lalu Jurusan Sosiologi UNJ didatangi beberapa aparat kepolisian. Kedatangannya bukan karena ada tindak kriminal yang dilakukan Jurusan Sosiologi UNJ ataupun mahasiswa/I nya, melainkan dalam upaya sosialisasi kemanan dalam berkendara dan berlalu lintas. Acara tersebut dibungkus dengan tajuk program pengabdian masyarakat.
Mengenai manusia berkendaraan yang melalu lintas selalu tampil wajah-wajah arogan, baik dari pelanggar (agen) maupun kontribusi aparat nakal (struktur). Perbincangan diskusi tersebut juga bermuara kepada perseteruan siapa yang mendeterminir? Agen atau struktur? Dalam kosmos sosiologikal hal ini telah menjadi perdebatan klasik, pemikir sosiologi makro juga banyak terproblematisir dalam aras tersebut, Durkheim, Marx sebagai nabi strukturalis, sementara Webber sebagai kafir yang membawa risalah pentingnya agensi.
Selanjutnya banyak yang masih merapal teks suci Marx dan Durkheim, tak sedikit pula yang menyuburkan kekafiran Webber. Dari dua kelompok ini kemudian muncul nabi-nabi sekuler yang berusaha mendamaikan kedua kelompok ini. Agak jauh melompat, kita menemukan nama Anthony Giddens walau bukan yang pertama namun ajaran mengenai sekularisasi agen dan struktur cukup berpengaruh dan komplit.
Giddens terutama menolak determinisme struktur, dalam istilahnya agensi dan struktur adalah dualitas yang mirip-mirip dua sisi mata uang, yang meskipun berbeda ia ada dalam satu bagian. Struktur satu hal yang diorganisasikan oleh aturan dan sumberdaya, lintas waktu dan ruang yang disimpan atas proses institusi dan pengkoordinasian lewat melacak sejarah, serta ditandai atas kehadiran subjek [i]
Kesan dialektis ingin ditampilkan Giddens sebagai pertautan antara Agen dan Struktur. Ia menekankan pada praktik-praktik manusia yang kemudian diinstitusikan dan kemudian menjadi sebuah hal yang harus dilakukan oleh manusia-manusia lainnya. Namun, Giddens memang tidak ingin tertidak mau terjebak dalam determinisme struktur, kemudian ia menekankan bahwa aktor juga tidak hanya memantau secara berkelanjutan dari perkembangan aktifitas mereka dan mengharapkan mereka melakukan hal yang sama. Aktor juga melihat aspek sosial dan fisik dimana ia bergerak.
Lebih dari itu aktor juga dapat memonitor proses monitoring tersebut dalam kesadaran diskursif. Skema interpretatif ini merupakan modus dari basis-basis pengetahuan di dalam kesadaran diri aktor, yang kemudian diaplikasikan secara reflektif dalam komunikasi berkelanjutan.[ii] Dalam hal ini, secara lebih umum Giddens memerhatikan proses dialektis ketika praktik, struktur dan kesadaran dihasilkan.

Jumat, 02 November 2012

Post-Modernisme: Proyek Emansipasi Setengah Hati


Biasanya, ihwal Post-Modernisme akan dimulai dengan penjelasan bagaimana ia lahir dari ketidakpuasan proyek Modernitas. Modernitas yang pada awalnya diklaim sebagai solusi atas problem manusia dan kemanusiaan, diyakini pemikir Post-Modernisme justru makin mematikan manusia dan kemanusiaanya.
Namun, biarkan saya memulai menulis mengenai Post-Modernisme dari sastrawan cum jurnalis Goenawan Mohammad (GM).  GM dalam banyak tulisannya telah menunjukkan kecenderungan Post-Modernisme. Tidak perlu jauh-jauh melihat kecenderungan Post-Modernisme GM, sila baca Majalah Tempo, Edisi 29 Oktober-4 November 2012 dalam rubrik Catatan Pinggir yang diampunya sejak Majalah Tempo berdiri.
Edisi tersebut menyajikan GM sebagai seorang Post-Modernis. Dengan judul: Shih, GM bercerita mengenai monopoli Pemerintahan Republik Cina yang kala itu dipimpin Chiang Khaisek. Satu regu Biro Monopoli Tembakau Pemerintah Cina diceritakan GM merampas rokok, dan hasil penjualan rokok seorang pedagang di Taipe, Taiwan.
Kejadian ini kemudian meluas menjadi sebuah aksi protes terhadap otoritarianisme Pemerintahan Cina, yang kemudian secara reaksioner dibalas Chiang Khaisek dengan upaya pembersihan besar-besaran di Taiwan. 4000 orang terbunuh.
Bagian selanjutnya, GM bercerita mengenai saksi mata peristiwa tersebut: Shih-Ming Te. Shih bukan hanya saksi mata atas peristiwa tersebut, ia kemudian menjelma menjadi aktivis yang mengupayakan kebebasan Taiwan atas kekuasaan yang menindas. Akibatnya, 25 tahun hidupnya dihabiskan di penjara sebagai imbalan atas aksi protes menentang Pemerintah Cina.
Dalam kepala tulisan (Lead) GM menulis: Tak mudah mengatakan apa itu keadilan, tetapi tentang ketidak-adilan orang dapat mengenalinya dengan seketika. Shih juga merasakannya, ketika banyak ancaman, kekerasan, intimidasi dan varian bentuk penindasan bertamu ke hidupnya, ia dengan mudah mengklasifikasi bentuk tersebut sebagai sebuah ketidak-adilan. Namun, seringnya ia mendapat situasi tidak-adil, Shih tiba pada pertanyaan: lantas, apa itu sebuh keadilan?.

Jumat, 12 Oktober 2012

Sosiologi Povokasi!


Pendahuluan

Awalnya adalah diskusi kelas mengenai bagaimana kurikulum Jurusan Sosiologi UNJ ditinjau melalui teori-teori sosiologi. Dalam diskusi yang diikuti delapan kelompok tersebut, hanya ada satu kelompok yang menggunakan teori konflik sebagai landasan guna meninjau kurikulum Jurusan Sosiologi, sisanya menggunakan teori fungsionalisme Emile Durkheim.

Dari diskusi tersebut hadir pertanyaan apa tujuan Jurusan Sosiologi yang termanifestasikan dalam visi dan misi Jurusan Sosiologi. Muncul juga beragam jawaban yang sifatnya normatif. Misalnya: munculnya pelatihan IT (Informasi Teknologi), komputer, diyakini mampu menjadikan mahasiswa menjadi guru sosiologi yang tanggap akan teknologi. 

Semua kebijakan kurikulum sosiologi diimani menjadi pendorong mahasiswa menjadi guru sosiologi yang kompeten sekaligus menjawab tantangan zaman. Sampai ada salah satu peserta diskusi yang menganggap kemunculan mata kuliah Sosiologi Agama diharapkan mampu meningkatkan iman dan taqwa mahasiswa, dan menunjang dimensi religi dalam konfigurasi guru yang sempurna.

Kemudian saya heran, kenapa jurusan yang memiliki visi menjadi program studi unggulan di tingkat nasional yang menghasilkan sarjana sosiologi yang mampu bernalar sosiologis ini justru malah menghadirkan iklim yang tidak sosiologis, dengan contoh tersebut. Beberapa paper yang sempat saya lihat malah hanya mengutip dari wikipedia.

Menjadi arogan bila menyalahkan peserta didik yang tidak mampu bernalar sosiologis sementara Jurusan Sosiologi sebagai struktur yang mengonformitas justru tidak pernah merangsang mahasiswa bernalar sosiologis. Lantas menjadi wajar bila mengatakan kurikulum Jurusan Sosiologi UNJ belum berhasil atawa gagal.

Atas kondisi tersebut muncul ketertarikan buat menggunakan teori kritis khususnya yang diusung institut frankfurt buat menganalisis kurikulum Jurusan Sosiologi UNJ.

Sabtu, 15 September 2012

Helvetica


Ada banyak prinsip yang dapat digunakan seorang desainer grafis. Namun, bagi desainer karbitan macam saya, prinsip KISS (Keep It Simple, Stupid!) nampaknya memang paling cocok. Mengapa cocok? Buat saya, seorang desainer grafis layaknya seorang nabi. Ia harus menyampaikan pesan yang mampu dicerna oleh khalayak umum lewat media yang ia ciptakan. Makanya, prinsip KISS memang sangat efektif digunakan bahkan bagi desainer yang mapan.

Dalam KISS efektifitas jadi panglima. Ia memadukan semua komponen visual yang dibutuhkan dengan menyederhanakan bentuk, demi menuju tatanan fungsionalis. Materi-materi penyusunnya juga berasal dari bentuk-bentuk yang sederhana. Satu yang jadi langganan dalam merayakan KISS adalah tipe huruf (font) Helvetica yang punya karakter sederhana dengan tingkat keterbacaan yang tinggi. Manuel Krebs dalam Film Dokumentasi: Helvetica! menyatakan, “If You’re not a good designer, and if you are not a designer. just use Helvetica. It looks Good!”

Saya sendiri sangat menggandrungi Helvetica. Dalam mendesain, belakangan saya tidak perlu banyak-banyak memakan waktu, karena dalam urusan memilih huruf, Helvetica pilihan utamanya. Helvetica sendiri lahir 1960 di tangan Max Miedinger dan Eduard Hoffman dari perusahaan pembuat huruf Haas di Swiss. Hingga kini, Helvetica menjadi huruf yang paling sering digunakan di dunia untuk keperluan visual.

Max dan Eduard mengklaim bahwa Helvetica adalah anak kandung dari modernitas. Ia lahir atas sebuah optimisme sebuah modernitas yang apik setelah kemencekaman dunia lewat Perang Dunia Kedua, khususnya Fasisme. Buat mereka berdua, makna hanya dikandung oleh kata-kata, bukan oleh huruf. Makanya huruf harus bersifat netral dan tidak perlu sifat dan bentuk yang ekspresif. Huruf hanya punya satu fungsi: tingkat keterbacaan (legibility) tinggi.

Minggu, 26 Agustus 2012

Merumus Ulang Manusia dan Kemanusiaan


Judul Buku  : Humanisme dan Sesudahnya;
                      Meninjau Ulang Gagasan Besar Tentang Manusia
Penulis        : F. Budi Hardiman
Penerbit       : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Terbit : Juni 2012
Hampir empat abad yang lalu, tepatnya  22 Juni 1633, Galileo Galilei dibawa ke Pengadilan Geraja Italia. Ia diringkus oleh Gereja Italia lantaran dukungannya atas teori Copernicus mengenai perputaran bumi yang mengelilingi matahari. Gereja-Gereja Eropa yang kala itu masih meyakini ajaran Aristoteles bahwa bumi adalah pusat alam semesta tentu saja menganggap Galileo dan keyakinannya sesat.

Gereja-gereja di Eropa yang hingga abad 18 memang punya otoritas absolut atas tindak tanduk manusia yang diterjemahkan lewat ayat-ayat suci, dan ganjaran-ganjaran kehidupan setelah mati. Gereja punya seperangkat dimensi manusia yang harus dipatuhi atas nama kemanusiaan yang dikontrol oleh agama (Kristianitas). Namun, manakala doktrin atas keselamatan individu berubah menjadi alat kontrol atas individu yang penting bukan lagi manusia nyata, melainkan agama.

Atas kondisi tersebut, segala yang bertentangan dengan Gereja sebagai penafsir tunggal atas agama, mulai muncul tindakan-tindakan manipulatif dari Gereja yang mengalienasi manusia dari hidup dan kehidupannya yang otentik. Galileo jadi contoh bagaimana manusia dengan kekhasan kemanusiaanya yang dalam kondisinya ditolak mentah-mentah otoritas Gereja.

Bangga


Spanduk itu memang banyak mencuri perhatian. Ukurannya besar. Kurang lebih 8 x 1 meter. Tulisannya Gue Bangga Jadi Mahasiswa UNJ ditambah lambang UNJ di pojok. Bila benar, spanduk tersebut dipasang mulai Juli di Teater Terbuka. Saya tidak tahu siapa yang memasang. Apalagi niatnya. Saya tak peduli. tapi spanduk itu tetap menjambret perhatian. Khusunya buat mahasiswa baru.

Teman saya jadi korban. Gara-gara spanduk tersebut, Ia kecopetan perhatian. Ia gadis 17 tahun, baru lulus SMA. Diterima di Jurusan Akuntansi UNJ, lewat jalur Penmaba. Saat daftar ulang saya mengantarnya ke BAAK buat urus syarat-syarat administratif sekaligus urusan birokratis lainnya. ia tak hirau spanduk itu hinnga melihat antrian panjang menuju petugas loket. Ia mengendur semangat. Mengajak saya mencari selasar. Melempar pandang. Pandangnya terhenti sejenak di spanduk.

Si gadis lulusan tulen SMA Indonesia. Tak banyak tingkah. Hijau. Polos. Perhentian mata di spanduk itu membuah manifestasi semua yang ia dapat di bangku sekolah. “Memang mahasiswa UNJ tidak bangga dengan kampusnya sendiri, ya?” ucapnya. Polos. Saya masih tidak peduli hingga si gadis mengulang pertanyaannya dua kali. Saya menjawab seadanya, “sabar, sebentar lagi juga akan tahu apa yang dirasa si pemasang spanduk.”
Inferior. Satu kata yang mampir di kepala saya setelahnya. Sebuah rasa ketidakpercayaan diri akut. Rendah diri. Menganggap dirinya sangat rendah dihadapan apapun dan siapapun. Dalam tingkat tertentu, omongan si gadis benar. Kenapa harus dibuat spanduk besar dan lebar buat menyemat kebanggan? Apa sudah tak ada lagi yang mampu dibanggakan hingga mengguna cara-cara instan seperti memasang spanduk? Bukan. Bukan spanduk yang jadi masalah. Utamanya hal yang ingin diungkap si spanduk.

Saya tak mau lagi ungkit tentang kasus korupsi, biaya kuliah yang menjulang, atau sistem perkuliahan amburadul. Tapi, apa efeknya sangat sangat meraba ranah kejiwaan sampai menerbit inferioritas yang akut. Dibaca terbalik, spanduk itu memuncul krisis identitas. Ketidakpercayaan terhadap almamater. Sebelumnya, saya yakin ini semua telah diketahui walau semua pura-pura tidak tahu. Saya kagum sekaligus heran. Bila sudah ada pernyataan seperti ini, ranahnya bukan lagi individual melainkan kolektif. Sudah jadi perihal sosiologis.

Hipokrit. Kata kedua yang bertandang. munafik. Cari peluang yang menguntungkan. Berpura-pura. Di luar berpenampilan gagah, arogan, mewah. Liat itu gedung tinggi! Bayaran berjuta-juta! Kloset duduk dengan air cebok yang memancur otomatis! Sementara di dalam hanya ada brankas penyimpan takut, cemas, panik. Atas isi brankas itu muncrat cara-cara temporer. Spanduk salah satunya. Tidak menjamah masalah utama.

Citra awal harus menggoda. Citra jadi cara ampuh menyembunyikan inferioritas stadium akhir. Masa pembinaan selepas MPA mencitrakan UNJ sesak kegiatan akademik. Ada juga yang disembunyikan. Fakta bahwa belakangan waktu UNJ tak sempat hadir di perhelatan akademik macam PIMNAS. Pun sulit mendapat hibah program kreatifitas mahasiswa jadi alasan masa pembinaan mahasiswa ada. UNJ sadar ia tidak berkutik. lagi-lagi jalan pintas yang ditempuh. Seperti indomie. Instan.

Kembali ke si gadis dan saya. Si gadis tampak heran ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi disini. Saya ambil kesempatan atas polosnya. Saya terangkan bahwa kata bangga dalam Bahasa Jawa punya arti lain. Bangga: tidak mau menurut, pembangkang. Lema ini sudah diadopsi menjadi Bahasa Indonesia baku. Ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ia kaget mendengarnya. Lagi-lagi polosnya saya manfaatkan. “Bila kamu mahasiswa UNJ sejati, kamu harus membangkang atas senior, dosen, ketua jurusan, dekan, pembantu rektor, rektor.” Saya tertawa banyak setelahnya. Ia cuma bilang saya gila.

Selasa, 17 April 2012

operator

Video berdurasi 5.31 menit itu memang cuma hanya rekaman tanpa ada video(gambar yang bergerak). Rekaman yang diunggah ke situs YouTube diberi judul Ngapak Cilacap vs Operator Telkomsel dan diunggah oleh pemilik akun hanifalviyanto. Di awal rekaman, ada operator Telkomsel yang menyapa dengan ramah,
“Telkomsel, selamat malam dengan Irfan disini, dengan bapak siapa saya bicara?” tanya si operator.
“Dengan Bapak Doeng,” jawab si penelepon.
“Dengan Bapak Doeng ada yang bisa kami bantu?”
“Ohhhh, iya iya mesti,” jawab si Doeng dengan logat ngapak
“Apa keluhan bapak saat ini?”
Ditanya seperti itu, Doeng malah menyeru supaya tidak mengejek. Si operator yang bingung menjelaskan masih dengan baik bahwa ia tidak mengejek, dan kembali menanyakan Doeng punya keluhan apa atas kartu Telkomsel-nya. Kemudian Doeng menjelaskan bahwa ia memiliki keluhan atas tarif kartu selularnya, namun tidak dipedulikan oleh operator. Saking kesalnya Doeng mengumpat dengan logat ngapak khas Cilacap. “ini saya tanya tentang tarif dari tadi tapi tak dipeduliin, koe tak tempiling (kamu mau saya pukul) apa?”
Operator yang bingung dengan bahasa Doeng, menyuruh Doeng bicara dengan bahasa indonesia yang baik dan benar. Doeng justru malah marah, ia malah memaki si operator dengan kelamin lelaki dalam bahasa Cilacap. Si operator masih tidak mengerti, dan masih menyuruh Doeng menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Sabtu, 14 April 2012

Harapan Hasibuan digantung di UNJ

Belakangan hari Hasibuan makin mantap menjadikan UNJ sebagai poros hidupnya. Kemantapan hati Hasibuan ada karena sebentar lagi putri sulungnya akan lulus Sekolah Menengah Kejuruan. Walau belum ada pengumuman lulus atau tidak putrinya, ia telah memilih UNJ sebagai perguruan tinggi tempat menuntut ilmu anaknya selanjutnya.

Memilih UNJ memang tidak sekonyong-konyong datang buat Hasibuan dan putrinya. Awalnya, si sulung ingin kuliah hukum di Universitas Kristen Indonesia (UKI). Fakultas Hukum UKI yang banyak diisi mahasiswa dari daerah yang sama jadi alasan utama, walaupun putrinya sekolah pada jurusan Akuntansi di SMK.

“Biar dari satu daerah, tapi universitas itu kan juga bisnis. Dalam bisnis tidak ada kata saudara,” kata Hasibuan. “saya cuma pedagang kecil, mengkuliahkan anak di universitas swasta jelas saya tidak sanggup.”

Pendapatannya dari membuka warung rokok dan kopi di pintu belakang UNJ dirasa Hasibuan tidak akan mencukupi biaya kuliah anaknya hingga selesai kuliah, makanya pilihan jatuh ke UNJ. Hasibuan yang sejak tahun 2001 berdagang di UNJ tahu biaya kuliah di UNJ tak terlalu membuat dompetnya kering kerontang.

Demi menempuh bangku kuliah, si putri melunak, ia mau kuliah di UNJ. Awalnya anak pertama dari empat anak Hasibuan ini mau masuk jurusan Seni Tari, namun Hasibuan tak mau begitu saja menerimanya. “mau jadi apa nanti? jadi penari kan harus pintar juga menyanyi. Lagipula pekerjaan macam itu harus menunggu pesanan,” Protes Hasibuan kepada anaknya.

Akhirnya Hasibuan dan anaknya sepakat Jurusan Akuntansi akan dipilih nanti. Selain si anak yang memang sudah belajar akuntansi sejak duduk di bangku sekolah menengah, Hasibuan berpikir panjang ke depan, “banyak perusahaan yang membutuhkan jasa Akuntan,” ujarnya. “Walau saingannya banyak, tapi saya percaya mukjizat Tuhan.”

Kini selain berdagang, Hasibuan punya kegiatan lain, yakni mencari informasi atas UNJ, khususnya tentang jalur masuk. Tapi Hasibuan alpa mencari informasi tentang biaya kuliah. Karena semenjak angkatan kuliah 2011 UNJ mengalami kenaikan biaya kuliah mencapai seratus persen.

Hasibuan tidak tahu bahwa gedung-gedung baru di UNJ yang persis terletak di belakang kiosnya membuat UNJ tega menaikkan biaya kuliah yang mungkin akan memotong harapan anaknya berkuliah. Yang Hasibuan tahu, gedung-gedung yang sedang dibangun itu turut membuat penghasilannya kembang kempis, “Di dalam proyek sudah ada kantin, penghasilan saya jadi berkurang,” keluh Hasibuan.

Minggu, 11 Maret 2012

Stasiun Gambir Buta Warna

St. Gambir bersolek, angkutan umum di dibatasi, hanya beberapa saja yang yang diperolehkan beroperasi.

FEBRUARI, MUNGKIN jadi bulan yang sial bagi Suparman, 52 tahun. Suparman seorang supir taksi yang biasa mangkal di St. Gambir. 17 Februari lalu, seperti biasa, ia datang ke St. Gambir untuk mencari penumpang. Di pintu masuk St. Gambir, Suparman melihat pengumuman “Selain taksi yang telah ditunjuk, dilarang dan/atau tidak diizinkan untuk parkir dan/atau mengangkut penumpang dari Stasiun Gambir.” Lantas ia menanyakan pengumuman tersebut ke petugas. Ia mendapat jawaban, bahwa mulai hari itu taksi selain yang sudah ditunjuk dilarang mangkal. ia kesal dan kemudian pergi.

Suparman pergi lantaran perusahaan taksinya bukan termasuk taksi yang ditunjuk seperti dalam pengumuman. Taksi yang dimaksudkan adalah, Blue Bird, Putra, dan Taxiku. Sedangkan taksi yang digunakan Suparman berasal dari perusahaan Pe Taksi. pelarangan taksi selain tiga perusahaan taksi diatas didasari upaya untuk membenahi St. Gambir, salah satunya dengan melakukan pembatasan armada taksi.

Karena pihak kereta api melihat banyak taksi yang sudah tidak layak namun masih beroperasi di St. Gambir. “Selain itu banyak keluhan dari penumpang tentang taksi yang argonya kuda, suka menurunkan penumpang tidak pada tempat tujuan,” ucap Sugeng Priyono, Kepala Humas Daerah Operasi (DAOP) 1

Upaya pembenahan tersebut dilakukan dalam rangka menjadikan St. Gambir bertaraf internasional. Dikutip dari detik.com, Mulianta Sinullingga, kepala DAOP 1, yang daerah operasinya meliputi Jabodetabek, mengatakan upaya itu meliputi hospitality, security, penataan Layout Tenant, How pun In and Out, Garrets Gate, penataan taman, toilet bersih dan gratis, penataan parkir, estetika St. Gambir, St Gambir yang bersih dan bersahabat, bebas dari gembel, pengemis, pengamen, dan integrasi Shelter Bus Way dengan stasiun.